Headline.co.id, Bangunan ~ Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan terbaru pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin (8/6/2026). Gempa tersebut mengakibatkan 27 kepala keluarga (KK) terdampak dan 27 rumah mengalami kerusakan. Informasi ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya pada hari yang sama.
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), 20 KK terdampak berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, sementara tujuh KK lainnya di Kabupaten Kepulauan Talaud. Selain rumah, kerusakan juga terjadi pada dua unit gereja, satu unit sekolah, satu unit rumah dinas guru, dan satu gedung GMIM 76 di Kabupaten Minahasa Utara. Gempa yang terjadi pada pukul 06.37 WIB ini berpusat di laut dengan koordinat 5,79 Lintang Utara dan 125,14 Bujur Timur pada kedalaman 47 kilometer.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami yang kini telah dinyatakan berakhir. Masyarakat di wilayah pesisir tidak lagi berada dalam status waspada tsunami, namun BNPB tetap mengingatkan warga untuk mengikuti informasi resmi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.
Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat. Di Kabupaten Kepulauan Talaud, guncangan dirasakan di Kecamatan Rainis, sedangkan di Kabupaten Minahasa Utara dirasakan di Kecamatan Likupang Barat. Warga Kota Manado juga merasakan guncangan dengan intensitas sedang selama beberapa detik.
Saat gempa terjadi, masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe merasakan guncangan cukup kuat selama tiga hingga empat detik yang menimbulkan kepanikan. Di Talaud, Manado, dan Minahasa Utara, guncangan dirasakan dengan intensitas lemah hingga sedang selama dua hingga empat detik. BPBD di masing-masing wilayah segera melakukan pemantauan, pengumpulan data, dan asesmen cepat untuk memastikan dampak yang ditimbulkan.
BNPB bersama BPBD provinsi dan kabupaten/kota terdampak terus memperkuat koordinasi penanganan darurat, termasuk pendataan warga terdampak dan kerusakan, pemantauan aktivitas kegempaan berdasarkan informasi resmi BMKG, serta peningkatan sosialisasi dan kesiapsiagaan masyarakat. BNPB mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. BNPB juga meminta warga yang rumahnya mengalami kerusakan untuk berhati-hati dan segera melaporkan kondisi bangunan yang berpotensi membahayakan kepada aparat setempat. Informasi terkait perkembangan penanganan akan terus diperbarui sesuai hasil pemantauan dan asesmen di lapangan.























