Headline.co.id, Batang ~ Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, memperkenalkan Program Bakti TNI sebagai pendukung strategis dari TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Program ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan desa, membuka akses wilayah, serta memperkuat kerja sama pemerintah, TNI, dan masyarakat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Batang, Bagus Pambudi, menyatakan bahwa Bakti TNI terinspirasi dari keberhasilan TMMD yang dinilai efektif dalam membangun infrastruktur dasar dan memperkuat semangat gotong royong. “Bakti TNI kami adopsi dari TMMD karena kami melihat manfaatnya nyata. Tidak hanya membangun jalan atau infrastruktur dasar, tetapi juga membangun modal sosial dan kebersamaan masyarakat,” ujar Bagus pada Rabu (3/6/2026).
TMMD merupakan program berkelanjutan yang telah lama berjalan dan sejalan dengan pola pemerintahan kolaboratif yang diterapkan pemerintah daerah. Di Batang, TMMD diintegrasikan dengan arah pembangunan daerah yang tertuang dalam RPJMD serta Master Plan Percepatan Pembangunan. TMMD reguler di Batang dilaksanakan dua kali setahun, namun tingginya usulan pembangunan dari desa memerlukan instrumen tambahan seperti Bakti TNI.
Berbeda dengan TMMD yang menggunakan pendanaan co-sharing APBD kabupaten dan provinsi, Bakti TNI sepenuhnya didanai oleh APBD Kabupaten Batang. “Proposal desa biasanya lebih banyak dari jumlah lokasi TMMD yang tersedia. Yang belum terakomodasi kami cover melalui Bakti TNI,” jelas Bagus. Skema pelaksanaannya disusun berkesinambungan dengan menjalankan TMMD Sengkuyung Tahap I, kemudian Bakti TNI, dan dilanjutkan TMMD Sengkuyung Tahap II.
Program Bakti TNI tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mengadopsi pendekatan TMMD secara utuh, termasuk penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, serta isu sosial strategis. “Output-nya kami samakan. Tidak hanya pembangunan infrastruktur, tetapi juga ada sosialisasi dan penyuluhan untuk menjawab isu-isu daerah,” katanya.
Pendekatan ini selaras dengan tiga arah utama pembangunan Batang: penyediaan infrastruktur dasar, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pembangunan melalui TMMD dan Bakti TNI juga diarahkan untuk mendukung penghijauan, pendidikan masyarakat, penanganan stunting, keluarga berencana, hingga penguatan ekonomi desa.
Bagus menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif karena Batang sedang bertransformasi menjadi kawasan industri yang memerlukan keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Sejak 2020, Batang kehilangan hampir 2.000 hektare tutupan lahan akibat alih fungsi kawasan menjadi area industri. “Karena itu kami berharap pembangunan tidak hanya menghasilkan infrastruktur dasar, tetapi juga ada pelestarian lingkungan dan peningkatan kualitas SDM,” ujarnya.
Melalui TMMD dan Bakti TNI, kepercayaan masyarakat, pemerintah daerah, dan TNI semakin tumbuh. Menurut Bagus, pembangunan kolaboratif membuktikan bahwa persoalan desa tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah maupun masyarakat. “Semakin TNI mendekat ke masyarakat, unsur kepercayaan itu semakin meningkat. Ini menjadi modal sosial yang penting,” katanya.
Antusiasme masyarakat menjadi faktor pembeda utama dibanding proyek yang sepenuhnya dikerjakan pihak ketiga. Warga tidak hanya terlibat sebagai pekerja konstruksi, tetapi juga memberikan swadaya berupa tenaga dan material yang nilainya sering kali signifikan. Karena itu, hampir setiap TMMD maupun Bakti TNI di Batang selalu menghasilkan overprestasi, yakni capaian pembangunan yang melampaui target awal. “Target jalan misalnya 700 meter, hasilnya sering lebih panjang karena ada swadaya masyarakat. Itu menunjukkan antusiasme warga sangat tinggi,” katanya.
Setelah pembangunan selesai, pemerintah desa bertanggung jawab mengelola dan merawat infrastruktur yang telah dibangun. Pemkab Batang juga memperkuat kapasitas desa melalui penyusunan aturan pemeliharaan, penguatan SDM, serta edukasi kepada masyarakat agar manfaat infrastruktur dapat bertahan dalam jangka panjang. Menurut Bagus, keterlibatan warga dalam pemeliharaan perlu disesuaikan dengan budaya lokal dan momentum sosial masyarakat. “Gotong royong itu masih kuat di desa. Tinggal bagaimana kepala desa dan perangkatnya mampu menggerakkan serta memberi keteladanan,” ujarnya.
Ke depan, Pemkab Batang membuka peluang memperluas Program Bakti TNI apabila kemampuan fiskal daerah meningkat. “TMMD dan Bakti TNI adalah praktik baik pembangunan kolaboratif. Kalau kemampuan APBD meningkat, tidak menutup kemungkinan cakupannya diperluas,” pungkas Bagus.




















