Headline.co.id, Jakarta ~ Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) bekerja sama dengan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (SURGE) untuk membangun ekosistem kampus digital yang ditargetkan dapat menghubungkan 4.095 perguruan tinggi swasta (PTS) di seluruh Indonesia. Kerja sama ini diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Auditorium Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Senayan, Jakarta, pada Selasa (26/5/2026).
Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada penyediaan konektivitas internet, tetapi juga mencakup pengembangan layanan akademik digital, pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (AI), serta penguatan tata kelola kampus berbasis data. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, yang hadir dalam acara tersebut, menekankan pentingnya transformasi digital untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. “Transformasi digital merupakan fondasi penting untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, memperluas akses, serta memperkuat relevansi perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan nasional,” ujar Brian.
Ketua Umum APTISI Pusat, Muhammad Budi Djatmiko, menegaskan bahwa penguatan infrastruktur digital bagi PTS adalah kebutuhan mendesak. Menurutnya, PTS memainkan peran penting dalam pendidikan tinggi nasional karena menjadi pintu utama akses masyarakat untuk melanjutkan studi di berbagai daerah. “Jika Indonesia ingin meningkatkan Angka Partisipasi Kasar pendidikan tinggi secara signifikan, maka PTS harus diperkuat. Tidak mungkin APK pendidikan tinggi naik secara nasional tanpa melibatkan perguruan tinggi swasta,” tegasnya.
APTISI menargetkan digitalisasi kampus dapat mendorong APK pendidikan tinggi mencapai 40 persen pada 2029, dari posisi saat ini yang sekitar 32 persen. Program ini didukung dengan pengembangan pembelajaran jarak jauh (PJJ), blended learning, hybrid learning, dan microcredential yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Wakil Ketua APTISI sekaligus Rektor Universitas Bhakti Asih Tangerang (Unibang), Paristiyanti Nurwardani, menjelaskan bahwa kerja sama ini juga bertujuan untuk membangun basis data tunggal (single database) PTS, yang memungkinkan kolaborasi akademik lebih terbuka dan efisien.
Paristiyanti menyebut bahwa integrasi digital memungkinkan kampus berbagi sumber daya akademik melalui platform SPADA dan APTISI Sinergi. “Dosen yang bagus di satu kampus bisa menjadi referensi bagi perguruan tinggi lain. Sekarang kita bisa berbagi modul dan sumber belajar bersama-sama,” katanya. Selain digitalisasi akademik, APTISI juga menyiapkan Sekolah Kepemimpinan Perguruan Tinggi Swasta untuk meningkatkan kapasitas rektor, dekan, kepala program studi, hingga calon pimpinan kampus.
Di sisi konektivitas, SURGE menghadirkan dukungan internet berbasis Fiber-To-The-Home (FTTH) dan 5G Fixed Wireless Access (FWA) melalui layanan Internet Rakyat (IRA) dan Starlite. Direktur PT SURGE, Andi L. Bharata, menjelaskan bahwa perguruan tinggi anggota APTISI akan mendapatkan fasilitas internet gratis berbasis fiber optik murni dengan kecepatan hingga 1 Gbps tanpa kuota dan tanpa fair usage policy (FUP). “Utamanya tentu layanan internet gratis menggunakan fiber optik murni dengan kecepatan 1 giga tanpa kuota untuk menunjang pembelajaran di perguruan tinggi,” ujarnya.
Implementasi program ini dilakukan secara bertahap. Hingga November 2026, layanan ditargetkan menjangkau 1.334 kampus, terutama di Pulau Jawa, sebelum diperluas ke Sumatra dan wilayah lain. Kolaborasi APTISI–SURGE juga diperkuat dengan potensi sinergi bersama PT Pos Indonesia dan jaringan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) agar sosialisasi dan implementasi dapat menjangkau daerah lebih luas.
Dalam jangka panjang, APTISI menilai kolaborasi ini bukan sekadar menghadirkan internet kampus, tetapi membangun ekosistem Kampus Digital PTS Indonesia yang terkoneksi, adaptif, dan kompetitif. “APTISI mendukung penuh program Presiden Prabowo dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam meningkatkan APK pendidikan tinggi Indonesia menuju target 40 persen pada 2029,” tegas Muhammad Budi Djatmiko. Melalui kolaborasi ini, perguruan tinggi swasta diharapkan dapat mengatasi kesenjangan digital dan menjadi motor penggerak pemerataan pendidikan tinggi serta penguatan kualitas SDM menuju Indonesia Emas 2045.




















