Headline.co.id, Yogyakarta ~ Polresta Yogyakarta berhasil menangkap tiga pelaku pembacokan yang menewaskan pelajar bernama Adelio Alvis Adhi Wijaya, 17, setelah sempat buron selama tiga hari. Ketiga pelaku yang terafiliasi dengan geng Vozter ditangkap di sebuah safe house di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu (20/5) dini hari. Polisi mengungkap aksi kekerasan tersebut dipicu perselisihan antargeng pelajar yang saling menantang sebelum terjadi pembacokan di kawasan Stadion Kridosono, Kota Yogyakarta. Saat ini polisi masih memburu tiga pelaku lain yang diduga ikut terlibat dalam kasus tersebut.
Kapolresta Jogja Kombes Pol Eva Guna Pandia mengatakan, tiga pelaku yang telah diamankan masing-masing berinisial MY, LA, dan MF. Dari ketiganya, satu orang diketahui masih aktif sebagai pelajar SMK di Kota Jogja, sedangkan dua lainnya merupakan alumni sekolah.
“Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, motif kejadian ini adalah perselisihan antargeng. Kelompok Vozter saling tantang dengan geng Trah Gendeng yang diikuti korban,” ujar Eva Guna Pandia saat memberikan keterangan, Rabu (20/5).
Menurut Eva, dalam tragedi berdarah di kawasan Stadion Kridosono terdapat enam orang yang terlibat. Karena itu, penyidik masih melakukan pengejaran terhadap tiga anggota geng Vozter lainnya yang hingga kini belum tertangkap.
“Kami mengimbau kepada orang tuanya agar segera menyerahkan putranya. Segala perbuatan yang melanggar hukum, apalagi menghilangkan nyawa orang, akan kita proses sesuai aturan yang ada,” tegasnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian mengungkapkan rumah yang digunakan para pelaku untuk bersembunyi di Cilacap diduga menjadi tempat berkumpul berbagai geng sekolah dan geng motor dari sejumlah daerah.
Menurut Riski, lokasi tersebut juga pernah digunakan sebagai tempat persembunyian delapan pelaku pembunuhan Ilham Dwi Saputra, 16, di Bantul beberapa waktu lalu. Polisi menduga rumah itu telah lama menjadi safe house bagi anggota geng dengan latar belakang berbeda.
“Rumah itu milik salah satu pelajar yang orang tuanya sudah bercerai, sehingga sering tidak ada pengawasan orang dewasa,” kata Riski.
Ia menjelaskan, meskipun berasal dari kelompok berbeda, para anggota geng yang berkumpul di rumah tersebut memiliki solidaritas kuat. Bahkan aktivitas mereka disebut kerap menimbulkan keresahan warga sekitar.
“Warga sudah sempat memberikan peringatan, namun orang tua dari pemilik rumah justru marah-marah,” ungkap Riski.
Polresta Jogja memastikan proses penyelidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap seluruh pelaku yang terlibat dalam kasus pembacokan tersebut. Polisi juga mendalami keterkaitan antar kelompok geng pelajar yang diduga menjadi pemicu aksi kekerasan hingga menewaskan korban.








