Headline.co.id, Di Dusun Tempursari ~ Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Komunitas dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening mengembangkan teknologi elektrolisis untuk mengolah air hujan menjadi air layak minum. Pendiri komunitas ini, Sri Wahyuningsih atau yang akrab disapa Bu Ning, menjelaskan bahwa air hujan yang ditampung melalui beberapa tahap filtrasi sebelum diproses dengan teknologi elektrolisis. “Air hujan yang kami olah melalui beberapa tahap filtrasi sebelum diproses menggunakan teknologi elektrolisis,” ujar Bu Ning saat ditemui di Komunitas Banyu Bening pada Selasa (12/5/2026).
Bu Ning menjelaskan bahwa air basa yang dihasilkan memiliki muatan hidrogen dan digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Air ini dikenal memiliki sifat antioksidan karena klaster molekulnya lebih kecil sehingga lebih mudah diserap tubuh. “Biasanya digunakan untuk merawat luka, berkumur saat sakit gigi atau sariawan,” tambahnya. Namun, ia mengingatkan bahwa konsumsi air ini hanya untuk kondisi tertentu dan maksimal 100 mililiter per hari.
Proses filtrasi yang dilakukan melibatkan beberapa tahap. Filter pertama menyaring kotoran dan hewan kecil, filter kedua memisahkan air hujan awal, dan filter ketiga dilakukan sebelum air masuk ke tandon. Bu Ning juga berbagi cerita tentang pasangan yang sebelas tahun belum memiliki anak, namun setelah rutin mengonsumsi air hujan olahan ini, beberapa tahun kemudian mereka akhirnya memiliki anak. “Saya sekarang mengisi ulang dua galon (ukuran 15 liter per galon) untuk kebutuhan 2-3 minggu. Air ini untuk menyembuhkan infeksi saluran kemih saya,” ungkapnya.
Bu Ning berharap masyarakat dapat memahami bahwa air hujan itu baik dan bisa dimanfaatkan dengan aman melalui teknologi sederhana. “Harapannya masyarakat kembali memahami bahwa air hujan itu baik dan bisa dimanfaatkan dengan aman melalui teknologi sederhana,” katanya. Sekolah Air Hujan juga mengajarkan teknik pemanfaatan air hujan dan membangun pendidikan karakter melalui Sanggar Banyu Bening untuk anak-anak. Di tempat ini, anak-anak dikenalkan kembali pada budaya Jawa, tradisi sungkem, unggah-ungguh, serta kebiasaan ramah lingkungan seperti membawa tumbler dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.




















