Headline.co.id, Lumajang ~ Perubahan iklim mulai berdampak pada kualitas durian di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menjelang musim panen tahun 2026. Fluktuasi suhu, curah hujan yang tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi rasa, tekstur, serta tingkat kematangan buah durian. Kepala Bidang Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang, Hendra Suwandaru, menyatakan bahwa durian adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
“Pembentukan rasa sangat bergantung pada cuaca. Saat panas cukup, akumulasi gula optimal. Namun saat curah hujan tinggi, kadar air meningkat sehingga memengaruhi konsistensi rasa,” ujar Hendra di Lumajang pada Minggu (26/4/2026). Ia menambahkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan proses fisiologis tanaman, di mana intensitas cahaya yang rendah dan kelembapan tinggi menyebabkan pembentukan karbohidrat tidak maksimal, sementara kandungan air dalam buah meningkat.
Dampak dari perubahan ini tidak hanya mempengaruhi rasa, tetapi juga keseragaman kematangan buah. Variasi kualitas dalam satu pohon bahkan satu buah menjadi lebih sering terjadi. Selain itu, kelembapan tinggi meningkatkan risiko penyakit tanaman, terutama akibat jamur, serta memperbesar potensi buah gugur akibat angin kencang sebelum matang optimal.
Sejumlah sentra durian di Lumajang, seperti Pasrujambe, Gucialit, dan Senduro, saat ini mulai memasuki masa panen di tengah kondisi cuaca yang tidak stabil. Untuk mengatasi tantangan ini, Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian memperkuat pendekatan adaptif kepada petani. Salah satunya melalui program Sekolah Lapang Good Agricultural Practices (GAP) yang bertujuan meningkatkan pemahaman petani terhadap teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi cuaca.
Pendampingan yang diberikan meliputi pengelolaan tajuk tanaman, pengendalian kelembapan kebun, hingga penentuan waktu panen berdasarkan kondisi aktual. “Pendekatan yang dilakukan bukan mengubah cuaca, tetapi meningkatkan kemampuan petani dalam merespons kondisi tersebut,” kata Hendra. Pemerintah daerah menilai adaptasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas dan daya saing komoditas hortikultura, khususnya durian yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dengan penguatan kapasitas petani dan penerapan praktik budidaya yang baik, diharapkan kualitas hasil panen tetap terjaga meskipun menghadapi dinamika perubahan iklim.




















