Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pasca-bencana Sumatra, melakukan kunjungan kerja ke Bener Meriah dan Aceh Tengah, Aceh, pada Senin (20/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, Tito didampingi oleh Kepala Pos Komando Wilayah Satgas PRR, Safrizal ZA.
Rombongan tiba di Tanoh Gayo pada siang hari dan mendarat di Bandara Rembele, Kampung Bale Atu, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Setelah tiba, Tito dan Safrizal, bersama Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh), Bupati Bener Meriah Tagore Abubakar, serta sejumlah pejabat lokal lainnya, langsung menuju jembatan bailey di dekat Batalyon 114/Satria Muara, Bener Meriah.
Jembatan tersebut dibangun di atas tanah yang longsor akibat hujan deras selama seminggu penuh pada November 2025. Sebelum bencana banjir dan tanah longsor, di lokasi tersebut tidak ada sungai, namun kini sungai telah terbentuk sehingga diperlukan pembangunan jembatan.
Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan ke Huntara Tunyang, tempat penampungan sementara bagi penyintas banjir dan tanah longsor yang terletak di Kecamatan Timang Gajah. Di sana, Tito menyampaikan pidato di hadapan ratusan warga yang berkumpul di aula huntara yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Huntara tersebut menampung 222 kepala keluarga.
Dalam pidatonya, Tito menegaskan bahwa pemerintah berupaya keras memulihkan kondisi pascabencana. Bagi warga yang kehilangan rumah atau rumahnya mengalami kerusakan berat, pemerintah menawarkan tiga skema pembangunan. Pertama, pemilik rumah dapat membangun rumahnya sendiri dengan bantuan dana Rp60 juta dari pemerintah. Kedua, pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan membangun rumah dengan anggaran yang sama. Ketiga, bagi yang tidak memiliki tanah atau tanahnya tidak layak, disediakan opsi relokasi terpusat dengan lahan milik pemerintah.
Bupati Bener Meriah Tagore Abubakar, setelah meminta izin kepada Tito, menyatakan secara pribadi menghibahkan tanahnya di Mesidah untuk warga yang kehilangan kebun akibat bencana pada akhir 2025. Setelah pidato, Tito menyerahkan bantuan alat dapur secara simbolis, diikuti oleh Fadhlullah dan Safrizal.
Rombongan kemudian bergerak ke lokasi erosi bawah permukaan di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Petugas di sana melaporkan bahwa erosi bawah tanah masih berlangsung dan berbagai langkah antisipasi telah dilakukan, termasuk memindahkan jalur irigasi.
Secara terpisah, Safrizal menyatakan bahwa Pemerintah Pusat terus berupaya memulihkan daerah terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatra. Pembangunan kembali telah direncanakan dalam rencana induk yang disusun bersama dengan melibatkan semua pihak terkait. “Mohon doanya dari seluruh rakyat, supaya setelah ini, pemerintah segera bisa melaksanakan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. Butuh waktu hingga tiga tahun untuk menuntaskan seluruhnya. Mari kita bergandengan tangan, saling membantu dan saling berkolaborasi,” ujar Safrizal.






















