Headline.co.id, Alfath Qornain Isnan Yuliadi ~ mahasiswa program D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), telah menorehkan prestasi gemilang. Berasal dari Klaten dan lulusan SMK, Alfath menjadi satu-satunya siswa dari sekolahnya yang berhasil masuk UGM pada tahun 2022. Hingga kini, ia telah meraih belasan penghargaan di tingkat nasional dan internasional.
Kisah Alfath menjadi pengecualian di tengah dominasi lulusan SMA dalam seleksi perguruan tinggi. Ia tidak hanya menjadi yang pertama dari SMK-nya yang diterima di UGM, tetapi juga menjadi anggota keluarga pertama yang mengenyam pendidikan tinggi. “Kalau di angkatan saya, jujur cuma saya. Satu-satunya dari SMK saya yang lolos,” ungkapnya pada Kamis (9/4).
Keputusan Alfath untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidaklah mudah. Orang tuanya sempat ragu karena sejak awal Alfath diarahkan masuk SMK agar bisa segera bekerja. “Awalnya memang tarik ulur. Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja,” jelasnya.
Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Alfath menyadari dampak keputusannya terhadap kondisi ekonomi keluarga. Namun, tekadnya untuk berkembang lebih jauh tidak goyah. “Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah,” kenangnya. Perlahan, keyakinannya meluluhkan hati orang tua.
Untuk membiayai langkah awal menuju kampus impian, Alfath bekerja di proyek bersama ayahnya sejak kelas dua SMK. Dari menggali fondasi hingga mengangkat material, ia jalani semua pekerjaan dengan upah sekitar Rp50 ribu per hari. “Saya nggak enak minta ke bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah,” katanya.
Di sela-sela bekerja penuh waktu, Alfath tetap menyisihkan waktu belajar di malam hari. Menjelang ujian, ia mengatur waktu dengan empat hari bekerja dan tiga hari penuh di akhir pekan untuk belajar. Perjuangannya diuji ketika mengalami kecelakaan kerja, jatuh dari lantai dua proyek bangunan. Namun, pengalaman itu justru menguatkan tekadnya. “Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini,” ujarnya.
Hari pengumuman hasil seleksi UTBK menjadi momen penting dalam hidupnya. Saat dinyatakan lolos ke UGM, Alfath memeluk ibunya dan bergegas menemui kakeknya. “Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, ‘Saya jadi kuliah.'”
Bagi keluarganya, keberhasilan Alfath adalah sejarah baru. Sang kakek sangat bangga karena Alfath adalah satu-satunya cucu yang bisa menempuh pendidikan di bangku kuliah. Harapannya, Alfath mampu membuka jalan bagi keluarganya yang lain untuk menempuh pendidikan tinggi.
Di UGM, Alfath mengalami perubahan besar. Dari yang semula introvert dan fokus akademik, kini ia aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai kompetisi. “Saya dulu bahkan diajak lomba nggak mau. Tapi di UGM saya sadar itu penting, dan mulai aktif sejak semester tiga,” katanya.
Hingga kini, Alfath telah memenangkan sekitar 15 perlombaan di tingkat nasional dan internasional. Ia bahkan menjadi finalis pada sebuah kompetisi di Nanyang Technological University Singapura. Prestasinya mengantarkannya meraih penghargaan Insan Berprestasi UGM pada 2025. “Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM,” ujarnya.
Perjalanan Alfath membuktikan bahwa latar belakang bukanlah batas. Dari siswa SMK yang sempat diragukan, kini ia menjadi mahasiswa berprestasi yang membuka jalan bagi generasi setelahnya. Alfath menutup dengan pesan kuat, “Tugas kita bukan menerka masa depan, tapi memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan sekarang, supaya nanti kita tidak menyesal,” pungkasnya.
Di gemuruh mesin proyek dan hiruk pikuk kampus, Alfath telah membuktikan bahwa mimpi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya.





















