Headline.co.id, Jogja ~ Dexamethasone kerap dijuluki sebagai “obat dewa” di tengah masyarakat karena kemampuannya meredakan berbagai keluhan secara cepat. Namun, di balik efektivitasnya tersebut, obat ini memiliki potensi efek samping serius jika digunakan tanpa pengawasan medis. Apt. Ari Susiana Wulandari, M.Sc., dosen Program Studi S1 Farmasi Universitas Alma Ata, menegaskan bahwa dexamethasone merupakan obat keras yang hanya boleh digunakan berdasarkan resep dokter. Hal itu disampaikannya saat ditemui Headline.co.id.
Dexamethasone: Obat Kuat dengan Efek Anti-Inflamasi Tinggi
Ari menjelaskan bahwa dexamethasone adalah obat golongan kortikosteroid sintetik yang bekerja meniru hormon kortisol dalam tubuh. Obat ini memiliki efek anti-inflamasi (anti-radang) dan imunosupresan (penekan sistem imun) yang sangat kuat serta bekerja dalam durasi panjang.
“Dexamethasone digunakan untuk menangani kondisi medis tertentu seperti peradangan berat, reaksi alergi parah, penyakit autoimun, hingga kondisi kritis seperti edema serebral dan COVID-19 berat,” jelasnya.
Secara mekanisme, obat ini bekerja dengan menekan migrasi sel darah putih ke area peradangan, menurunkan produksi zat pemicu inflamasi, serta mengontrol respons imun yang berlebihan.
Tidak Semua Pasien Boleh Menggunakan
Menurut Ari, penggunaan dexamethasone harus sangat selektif. Obat ini umumnya diresepkan untuk pasien dengan kondisi seperti lupus, rheumatoid arthritis, serangan asma berat, reaksi alergi berat, hingga pasien kanker tertentu.
Namun, terdapat kelompok pasien yang harus berhati-hati bahkan menghindari penggunaan obat ini, seperti penderita diabetes, hipertensi, gagal jantung, infeksi jamur sistemik, serta ibu hamil dan anak-anak tanpa pengawasan ketat dokter.
“Penggunaan yang tidak tepat justru dapat memperparah kondisi pasien, terutama karena efeknya terhadap sistem imun dan metabolisme tubuh,” ujarnya.
Efek Samping Serius Mengintai
Di balik manfaatnya, dexamethasone memiliki berbagai efek samping serius, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi atau jangka panjang.
Beberapa efek yang kerap muncul antara lain perubahan fisik seperti wajah membulat (moon face), penumpukan lemak, serta peningkatan kadar gula darah yang berisiko menyebabkan diabetes. Selain itu, obat ini juga dapat memicu osteoporosis, kelemahan otot, hingga gangguan jantung seperti hipertensi dan penumpukan cairan.
Tidak hanya itu, penggunaan dexamethasone juga dapat menekan fungsi kelenjar adrenal. Jika dihentikan secara mendadak, kondisi ini bisa memicu krisis adrenal yang berbahaya.
“Risiko infeksi juga meningkat karena sistem imun ditekan. Bahkan infeksi lama seperti TBC bisa kambuh kembali tanpa gejala yang jelas,” tambah Ari.
Tidak Boleh Dihentikan Secara Mendadak
Ari menekankan bahwa salah satu kesalahan umum di masyarakat adalah menghentikan penggunaan dexamethasone secara tiba-tiba. Padahal, penghentian obat ini harus dilakukan secara bertahap atau tapering off (penurunan dosis secara bertahap).
Hal ini penting terutama bagi pasien yang telah menggunakan obat dalam jangka waktu lebih dari satu hingga dua minggu atau dalam dosis tinggi.
“Penghentian mendadak bisa menyebabkan tubuh tidak mampu memproduksi hormon kortisol secara alami, yang berpotensi fatal,” tegasnya.
Peran Apoteker dalam Pengawasan Penggunaan Obat
Sebagai tenaga kesehatan, apoteker memiliki peran penting dalam memastikan penggunaan dexamethasone yang aman. Ari menyebutkan bahwa apoteker berada di garis depan dalam melakukan skrining resep, menolak penjualan obat keras tanpa resep, serta memberikan edukasi kepada pasien.
“Pasien sebaiknya tidak ragu untuk berkonsultasi dengan apoteker terkait cara penggunaan, efek samping, maupun risiko obat. Edukasi ini penting untuk mencegah penyalahgunaan,” jelasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan klaim “obat dewa” tanpa memahami risiko yang menyertainya. Penggunaan dexamethasone harus berdasarkan indikasi medis yang jelas dan dalam pengawasan tenaga kesehatan profesional.





















