Headline.co.id, Bangunan ~ Beberapa kota di Indonesia memiliki bangunan pusaka yang merupakan peninggalan dari masa kolonial Belanda maupun yang dibangun setelah kemerdekaan. Keindahan bangunan-bangunan ini tidak lepas dari peran para arsitek, yang karyanya diperingati setiap 18 Maret sebagai Hari Arsitektur Indonesia. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat bangunan bersejarah seperti Tugu Pal Putih, Benteng Vredeburg, Panggung Krapyak, Gedung Pusat UGM, dan situs lainnya. Sementara itu, di DKI Jakarta terdapat Monumen Nasional (Monas), Gereja Katedral, Istana Merdeka, dan Masjid Istiqlal.
Bangunan pusaka ini dipertahankan untuk menjaga nilai sejarah, estetika, dan keindahan desainnya yang unik. Bangunan ini merupakan karya arsitek yang memberikan makna pada setiap inovasi yang mereka buat, dari bangunan hingga situs monumental di setiap ikon perkotaan.
Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D., seorang pemerhati arsitektur dan Guru Besar Ilmu Perencanaan Kota Fakultas Teknik UGM, menekankan pentingnya pelestarian bangunan bersejarah. Ia menjelaskan bahwa bangunan pusaka berfungsi sebagai dokumentasi sejarah perkembangan kota dan masyarakatnya. “Supaya tercatat karena bangunan adalah satu bagian dari saksi-saksi dokumentasi sejarah perkembangan kota dan masyarakatnya,” ujar Bakti pada Selasa (31/3).
Menurut Bakti, pelestarian bangunan pusaka tidak hanya untuk dokumentasi, tetapi juga membentuk identitas kota. “Sama halnya dengan membangun narasi mengenai karakteristik masing-masing kota untuk menjadi daya tarik pihak luar,” ungkapnya. Selain itu, bangunan cagar budaya memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Pelestarian bangunan dapat mendorong pemanfaatan sebagai aset wisata atau kegiatan ekonomi lainnya. “Baik wisata pendidikan, bersejarah, dan sebagainya. Bahkan, dapat juga menjadi aset ekonomi bagi pemiliknya apabila dikelola dengan baik,” tambahnya.
Bakti juga menjelaskan bahwa pelestarian ini berkaitan dengan definisi cagar budaya dalam UU Cagar Budaya Indonesia. Cagar budaya tidak hanya mencakup bangunan, tetapi juga benda, struktur seperti monumen, situs, dan kawasan cagar budaya. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur memiliki cakupan luas dalam menghargai warisan.
Isu arsitektur yang sedang dibahas adalah penggunaan material lokal. Bakti melihat sisi positif dari lokalisasi ini, terutama dari aspek lingkungan. “Memang saya belum melihat ada hasil penelitian, tetapi logika sederhana lokal material itu tentunya jejak karbonnya lebih rendah dibandingkan material yang dibawa oleh impor atau proses industri,” ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa pendekatan ini tidak bisa diterapkan seragam di seluruh Indonesia karena setiap daerah memiliki karakteristik material lokal yang berbeda.
Dalam konteks peringatan Hari Arsitektur, Bakti menekankan pentingnya aspek kesehatan dan kenyamanan hunian. Ia berbagi pengalamannya menggunakan genteng lokal yang memberikan pencahayaan dan penghawaan memadai. Sebagai penutup, Bakti mengingatkan peran arsitektur dalam kehidupan manusia melalui slogan, “Better Space, Better Living”. Ia menegaskan bahwa arsitektur yang baik tidak hanya dinilai dari keindahan seni visual, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan kehidupan yang lebih baik. “Tugas arsitek tujuan utamanya hanya menjembatani satu kehidupan penciptaan ruang yang baik dan sehat,” pesannya.





















