Headline.co.id, Gresik ~ Ribuan warga memadati kawasan religi Masjid Ainul Yaqin, Sunan Giri, untuk mengikuti tradisi Malam Selawe yang berlangsung khidmat pada akhir Ramadan, Senin (16/3/2026). Tradisi ini telah menjadi identitas religius sekaligus penggerak sosial-ekonomi masyarakat setempat. Acara dimulai dengan salat Isya dan Tarawih berjamaah, dilanjutkan dengan munajat serta pembacaan 1.000 Surat Al-Ikhlas secara bersama-sama. Suasana religius semakin terasa dengan kehadiran masyarakat dari berbagai wilayah yang datang untuk beriktikaf dan mengharapkan keberkahan malam Lailatul Qadar.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Wakil Bupati Asluchul Alif turut hadir dalam kegiatan tersebut. Sebelum mengikuti rangkaian ibadah, keduanya melakukan ziarah ke makam Sunan Giri sebagai bagian dari tradisi spiritual masyarakat setempat. “Niat kita malam ini adalah beriktikaf untuk mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar. Semoga Indonesia damai dan Gresik semakin aman, kondusif, serta terbuka rezeki bagi masyarakat,” ujar Bupati yang akrab disapa Gus Yani. Ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi Malam Selawe yang telah berlangsung selama berabad-abad, yang tidak hanya memperkuat nilai religius tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial masyarakat.
Tahun ini, tradisi Malam Selawe bersama Kupat Kethek resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Penetapan ini memperkuat posisi Gresik sebagai salah satu pusat tradisi religius di Indonesia sekaligus membuka peluang pengembangan pariwisata berbasis budaya. Sebagai bentuk syukur, pemerintah daerah menyediakan 2.000 porsi nasi kebuli dan 500 kupat kethek yang dibagikan kepada masyarakat.
Selain bernilai spiritual, Malam Selawe juga berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Gresik melibatkan desa dan kelurahan melalui program “Satu Desa Satu Produk Unggulan” yang ditampilkan dalam stan-stan kuliner dan produk lokal di kawasan Sunan Giri. Sejak sore hari, kawasan tersebut dipadati pengunjung yang menikmati beragam kuliner khas sembari menunggu rangkaian ibadah malam.
Salah satu warga, Yuni (38), mengaku tradisi ini selalu memberikan pengalaman berkesan. “Di bawah ada kuliner, di atas ada munajat dan doa. Meski sempat kehujanan, saya tetap bahagia bisa datang bersama keluarga,” ujarnya. Hujan yang turun pada malam itu justru menambah kekhidmatan suasana. Bagi sebagian masyarakat, hujan tersebut dimaknai sebagai simbol keberkahan di malam penuh doa.
Melalui tradisi Malam Selawe, Pemerintah Kabupaten Gresik tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat nilai spiritual, solidaritas sosial, serta menggerakkan ekonomi lokal berbasis masyarakat. Ke depan, tradisi ini diharapkan terus lestari sebagai kekuatan budaya yang mampu memperkuat identitas daerah sekaligus memberikan manfaat luas bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya di momentum Ramadan.





















