Headline.co.id, Jakarta ~ Enam perwira senior Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dilaporkan tewas dalam serangan Iran yang menargetkan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Senin (2/3/2026). Laporan itu disampaikan kantor berita Tasnim, sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim sedikitnya 560 personel militer AS tewas dan luka dalam rangkaian serangan terhadap pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah sejak Sabtu (28/2/2026). Iran menyebut serangan dilakukan sebagai bagian dari operasi militer terhadap fasilitas AS di kawasan tersebut. Hingga kini, Washington belum mengonfirmasi klaim tersebut dan hanya mengakui tiga tentaranya tewas.
Kantor berita Tasnim melaporkan, selain enam perwira CIA yang tewas, dua agen lainnya mengalami luka dalam serangan yang disebut menyasar Abu Dhabi. Informasi ini bersumber dari media Iran dan belum diverifikasi secara independen oleh otoritas Amerika Serikat maupun pemerintah UEA.
Secara terpisah, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan serangan juga diarahkan ke sejumlah pangkalan militer AS di Bahrain, Qatar, Irak, UEA, dan Kuwait. Dalam pernyataan resminya, IRGC mengklaim ratusan korban dari pihak militer AS.
“Fasilitas militer AS di Bahrain diserang oleh dua rudal balistik, serta pangkalan-pangkalan lain berada di bawah serangan tanpa henti, yang sejauh ini mengakibatkan 560 tentara AS tewas atau luka,” bunyi pernyataan IRGC.
IRGC juga menyebut empat serangan drone terhadap pangkalan angkatan laut AS di Bahrain menyebabkan kerusakan serius pada pusat komando dan dukungan militer. Selain itu, serangan diklaim menyasar Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait hingga melumpuhkan operasionalnya, serta tiga objek Lanal Mohammed Al Ahmad.
Sementara itu, Misi Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan sikap politik Teheran terhadap Washington. “Impian Pemerintah AS yang bermusuhan untuk menelan Republik Islam Iran serta memaksanya tunduk, tidak akan pernah terwujud,” demikian pernyataan resmi yang dirilis.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan tanggapan rinci terkait klaim kematian enam perwira CIA maupun ratusan tentaranya. United States Department of Defense (Pentagon) hanya mengakui tiga tentaranya tewas dalam serangan balasan Iran. Ketiganya disebut sebagai korban pertama dari pihak militer AS sejak eskalasi serangan dimulai pada Sabtu (28/2/2026).
Komando Pusat AS (Centcom) melalui pernyataan di media sosial menyampaikan bahwa sejumlah personel lainnya mengalami luka ringan. “Beberapa lainnya mengalami luka ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak, dan sedang dalam proses dipulangkan kembali bertugas. Operasi tempur utama terus berlanjut dan upaya respons kami sedang berlangsung,” tulis Centcom.





















