Headline.co.id, Kulon Progo ~ Pengusaha muda sekaligus pemilik brand Rokok HS, Muhammad Suryo, menjadi sorotan publik setelah mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai motor gede (moge) di ruas Purworejo-Wates, Kulon Progo, pada Minggu (1/3/2026). Insiden tersebut menyebabkan sang istri meninggal, sementara Suryo mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Peristiwa ini mengejutkan masyarakat karena Suryo dikenal sebagai CEO Surya Group Holding Company yang tengah berada di puncak pertumbuhan bisnisnya.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut mengenai kronologi detail kecelakaan tersebut. Fokus publik pun beralih pada sosok Muhammad Suryo yang dalam dua tahun terakhir dikenal luas melalui kesuksesan brand Rokok HS.
Muhammad Suryo merupakan putra dari mantan Wakil Bupati Bengkulu Utara, H. Sumarno. Latar belakang keluarganya tidak serta-merta menjadikannya sukses secara instan. Perjalanan bisnisnya dimulai dari bawah dan melalui proses yang bertahap.
Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah di Lampung, Suryo merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan sarjana. Di Kota Pelajar itulah insting bisnisnya mulai terasah. Ia tercatat pernah menjalankan berbagai usaha kecil, termasuk jasa air isi ulang, sebelum akhirnya mengembangkan jaringan bisnis yang lebih besar.
Di bawah bendera Surya Group, lini usaha yang dibangun meliputi sektor konstruksi dan properti, minyak dan gas (energi), penerbangan melalui maskapai Fly Jaya, serta industri rokok dengan brand HS.
Nama Muhammad Suryo semakin dikenal publik sejak peluncuran Rokok HS pada Juli 2024. Berpusat di Muntilan, Magelang, pabrik yang awalnya hanya mempekerjakan 30 buruh linting itu berkembang pesat. Dalam kurun dua tahun, produksi Rokok HS disebut telah menembus lebih dari 5 juta batang per hari. Strategi harga yang kompetitif menjadi salah satu faktor pendorong brand tersebut mampu bersaing dengan pemain lama di industri tembakau.
Selain ekspansi bisnis, Suryo dikenal dengan kebijakan rekrutmen yang inklusif. Ia tidak mensyaratkan ijazah, batas usia, maupun pengalaman kerja dalam proses perekrutan karyawan. Prinsip yang dipegangnya adalah memberi kesempatan bagi siapa pun yang memiliki kemauan untuk belajar. Perusahaan juga memprioritaskan warga sekitar pabrik serta penyandang disabilitas (difabel), bahkan memberikan uang saku selama masa pelatihan.
Di luar dunia usaha, Muhammad Suryo aktif dalam kegiatan sosial melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Surya Group. Ia telah membangun puluhan masjid di wilayah Jawa dan Sumatera. Pada Januari 2026, ia melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid An Nur di Lampung Timur sebagai bentuk bakti terhadap daerah kelahirannya.








