Headline.co.id, Kasus Infeksi Virus Nipah Dilaporkan Tengah Merebak Di India ~ menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia kini memperketat pengawasan dan pencegahan penularan virus ini dengan memantau pelaku perjalanan internasional serta mengawasi alat angkut dan barang dari luar negeri di pelabuhan. Virus Nipah diketahui ditularkan melalui kelelawar buah dan dapat menular ke manusia melalui hewan perantara seperti babi dan kuda. Penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan radang otak dan gangguan pernapasan serius.
Dosen mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, drh. M. Th. Khrisdiana Putri, M.P., Ph.D., menjelaskan bahwa virus Nipah pada hewan seperti babi dan kuda sering menunjukkan gejala pernapasan dan gangguan saraf yang bisa berakibat fatal. “Pada manusia, dampaknya lebih fatal karena kematian biasanya terjadi akibat ensefalitis atau radang otak,” ujarnya pada Jumat (6/2). Khrisdiana menambahkan bahwa virus Nipah bersifat musiman dan penyebarannya dipengaruhi oleh faktor stres atau kelaparan pada kelelawar.
Khrisdiana menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah pengamanan melalui regulasi, seperti melarang peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira. Kebijakan ini diharapkan dapat mencegah penularan dari kelelawar ke babi. Ia juga menyoroti kebiasaan konsumsi nira segar yang diminum langsung tanpa pengolahan. Menurutnya, nira sebaiknya dipasteurisasi atau dipanaskan sebelum dikonsumsi. “Di sektor peternakan, menjaga jarak kandang dari kebun nira dan melakukan desinfeksi kandang adalah hal penting,” tambahnya.
Khrisdiana menyebutkan bahwa virus Nipah tergolong lemah di lingkungan dan tidak mampu bertahan lama di luar inang. Oleh karena itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi langkah pencegahan yang efektif. “Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan dan mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar adalah hal yang tidak bisa diabaikan,” tutupnya.
Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, drh. Heru Susetya, M.P., Ph.D., menambahkan bahwa kelelawar adalah reservoir virus Nipah. Oleh karena itu, perhatian terhadap wabah ini sebagai penyakit zoonosis sangat penting. “Kekhawatiran kami adalah kemungkinan penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi,” ungkapnya. Heru menjelaskan bahwa virus Nipah pertama kali terdeteksi di Malaysia dengan pola penularan dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia. Namun, di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia.
Di Indonesia, Heru menilai seharusnya sudah ada sistem peringatan dini untuk berbagai penyakit zoonosis, termasuk Nipah. Sistem ini penting agar setiap temuan gejala dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti. “Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan,” tegasnya. Ia juga menekankan bahwa solusi bukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, melainkan menghindari kontak dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini. “Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut,” pungkasnya.






















