Headline.co.id, Jogja ~ Kanker menempati posisi ketiga sebagai penyakit paling mematikan di Indonesia setelah stroke dan penyakit jantung. Setiap tahun, angka kematian akibat kanker di Indonesia mencapai 234.000 kasus. Berdasarkan data Globocan 2020, terdapat sekitar 66.000 kasus kanker payudara di Indonesia, di mana 79 persen di antaranya berakhir dengan kematian. Hal ini disebabkan oleh keterlambatan deteksi yang sering kali baru dilakukan pada stadium lanjut.
Memperingati Hari Kanker Sedunia pada 4 Februari 2026, menjadi momen refleksi atas tantangan besar dalam penanganan kanker di Indonesia. Kanker masih menjadi salah satu penyebab utama kematian, terutama karena banyak kasus yang baru terdeteksi pada stadium lanjut. Kondisi ini mempengaruhi pilihan terapi dan peluang kesembuhan pasien. Pada tahap ini, peran dokter spesialis bedah subspesialis onkologi sangat penting dalam menentukan strategi tindakan yang tepat.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B., Subsp.Onk(K), menekankan pentingnya ketepatan waktu, pendekatan ilmiah, dan kesiapan sistem layanan dalam penanganan kanker. Menurut Tomo, kasus kanker yang paling sering memerlukan tindakan bedah di Indonesia adalah kanker payudara, kolorektal, tiroid, kanker kepala dan leher, serta kanker ginekologi. Jenis kanker ini sering ditemukan pada kelompok usia produktif sehingga berdampak luas secara sosial. Ketika pasien datang dengan kondisi penyakit yang sudah berkembang, tindakan bedah menjadi lebih kompleks dan berisiko. “Sebagian besar pasien datang pada stadium lanjut, sehingga tindakan bedah yang dilakukan sering kali lebih kompleks,” ujar Tomo, Kamis (5/2).
Tomo menegaskan bahwa deteksi dini sangat penting untuk keberhasilan tindakan bedah kanker. Pada stadium awal, kanker masih terlokalisasi sehingga memungkinkan tindakan bedah kuratif. Kondisi ini memberikan peluang hasil yang lebih baik dan risiko komplikasi yang lebih rendah. Sebaliknya, keterlambatan diagnosis membatasi pilihan terapi yang tersedia. “Pada stadium awal, kanker memungkinkan tindakan bedah kuratif dengan peluang hidup yang jauh lebih baik,” kata Tomo.
Dalam praktik sehari-hari, tantangan penanganan kanker tidak hanya pada aspek medis. Tomo menyebutkan bahwa pasien sering datang dengan kondisi umum yang sudah menurun, sehingga mempersulit proses tindakan dan pemulihan. Faktor psikologis pasien dan keluarga juga mempengaruhi pengambilan keputusan medis. Selain itu, keterbatasan fasilitas penunjang dan koordinasi lintas disiplin masih menjadi pekerjaan rumah. “Tantangan terbesar adalah pasien datang terlambat dengan kondisi umum yang sudah menurun,” tuturnya.
Ketakutan masyarakat terhadap operasi kanker masih menjadi hambatan besar. Banyak pasien ragu menjalani tindakan bedah karena terpengaruh informasi yang tidak utuh. Mitos bahwa operasi mempercepat penyebaran kanker masih sering ditemui. Tomo menekankan pentingnya edukasi berbasis bukti ilmiah sejak awal. “Operasi dengan indikasi dan teknik yang tepat justru menjadi salah satu pilar utama penyembuhan kanker,” kata Tomo.
Perkembangan teknologi kedokteran membawa perubahan signifikan dalam praktik bedah onkologi. Teknik bedah minimal invasif dan pendekatan multimodal membantu meningkatkan keselamatan pasien. Proses pemulihan pascaoperasi menjadi lebih cepat dengan hasil fungsional yang lebih baik. Tomo menilai bahwa tujuan bedah kanker saat ini telah bergeser menuju kualitas hidup pasien. “Tujuan bedah onkologi kini menjaga fungsi dan kualitas hidup pasien,” ia menjelaskan.
Pada Hari Kanker Sedunia, Tomo mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap kesehatan diri. Kanker, menurutnya, bukan lagi penyakit yang selalu berujung pada kematian jika ditangani sejak dini. Kesadaran untuk mengenali gejala dan melakukan skrining perlu ditingkatkan. Ia menilai bahwa konsultasi medis sejak awal memberi peluang hasil yang lebih baik. “Deteksi dini menyelamatkan nyawa, memberi peluang terapi yang lebih efektif, dan membuka harapan hidup yang lebih panjang bagi pasien kanker,” pungkasnya.





















