Headline.co.id, Jogja ~ Harga emas di pasar dunia mengalami penguatan seiring dengan meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Berdasarkan data dari Antam per 28 Januari 2026, harga emas tercatat mencapai Rp2,968 juta per gram.
Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., seorang ekonom dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), menjelaskan bahwa kenaikan harga emas ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor utama adalah kebijakan The Fed dan melemahnya dolar AS. “Pasar memperkirakan penurunan suku bunga AS, yang melemahkan dolar dan sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven,” ujarnya pada Jumat (30/1) di FEB UGM.
Wisnu juga menambahkan bahwa ketidakpastian geopolitik turut mempengaruhi kenaikan harga emas saat ini. Menurutnya, ketidakstabilan global, mulai dari ketegangan militer hingga sanksi ekonomi, mendorong permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik.
Selain itu, permintaan dari Bank Sentral dan Exchange Traded Fund (ETF) juga menjadi faktor pendorong. Bank-bank sentral di negara berkembang aktif menambah cadangan emas, sementara investor institusi semakin agresif membeli emas melalui ETF. “Inflasi dan ketidakpastian pasar saham membuat emas menjadi pilihan utama sebagai pelindung nilai jangka panjang,” tambah Wisnu.
Jika kondisi ekonomi dan politik global tetap tidak stabil, Wisnu memperkirakan tren kenaikan harga emas ini akan berlanjut. Namun, penguatan dolar atau kenaikan suku bunga AS secara signifikan dapat menekan harga emas. Wisnu menjelaskan bahwa masyarakat memilih emas sebagai instrumen investasi karena stabilitas nilai, kemampuan melindungi dari inflasi, likuiditas tinggi, dan fungsi sebagai safe haven. Emas juga tidak memiliki risiko pihak ketiga, berbeda dengan obligasi atau aset digital.
Mengenai prospek investasi emas, Wisnu menyatakan bahwa secara historis harga emas cenderung stabil dan meningkat dalam jangka panjang karena terlindung dari inflasi, deflasi, dan krisis ekonomi. “Namun dalam jangka pendek, seperti instrumen investasi lainnya, akan ada perubahan yang biasanya merespon terhadap kebijakan suku bunga dan nilai mata uang asing lain seperti USD, EUR, GBP,” paparnya.
Wisnu menambahkan bahwa gejolak politik dan ekonomi global mendorong masyarakat untuk memperkuat portofolio melalui aset yang lebih stabil seperti emas. Situasi ini menunjukkan adanya peningkatan indikator ketidakpastian global. “Banyak masyarakat yang membeli emas juga salah satu bentuk respon dari kebijakan moneter yang terjadi. Investor mencari aset yang aman dari volatilitas,” ucapnya.








