Headline.co.id, Tangerang ~ Meningkatnya kasus “Super Flu” di tengah masyarakat disebabkan oleh perubahan cuaca yang tidak menentu selama masa pancaroba. Hal ini diungkapkan oleh dr. Siti Nur R. Firda Fauziyah, seorang dokter umum di RS Sari Asih Sangiang. Menurutnya, kondisi cuaca tersebut memungkinkan virus bertahan lebih lama dan menyebar lebih cepat, terutama di daerah padat penduduk.
Istilah “Super Flu” bukanlah istilah medis resmi, melainkan istilah populer yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan infeksi saluran pernapasan yang lebih berat dan berkepanjangan dibandingkan flu biasa. Gejala yang dialami termasuk demam tinggi yang naik-turun, nyeri badan hebat, serta batuk yang tidak kunjung sembuh hingga berminggu-minggu. Kondisi ini seringkali membuat masyarakat kesulitan membedakan flu biasa dan COVID-19.
Dr. Siti menjelaskan bahwa fenomena ini dapat terjadi akibat “immunity gap” atau celah imunitas. Selama pandemi COVID-19, penggunaan masker, pembatasan sosial, dan penurunan mobilitas membuat tubuh jarang terpapar virus influenza. Ketika aktivitas kembali normal, sistem imun belum sepenuhnya siap menghadapi paparan virus pernapasan yang meningkat.
Hingga saat ini, belum ditemukan bukti adanya virus influenza jenis baru yang lebih berbahaya. Peningkatan kasus lebih disebabkan oleh infeksi virus pernapasan yang sudah dikenal sebelumnya. Berbeda dengan flu ringan yang biasanya membaik dalam tiga hingga lima hari, flu yang lebih berat memiliki ciri-ciri seperti kelelahan ekstrem, sakit tenggorokan hebat, nyeri otot dan sendi menyeluruh, serta durasi penyakit yang lebih panjang.
Langkah pencegahan yang dianjurkan meliputi vaksinasi influenza tahunan, menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi seimbang, menggunakan masker saat diperlukan, menjaga kebersihan tangan, serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih yang cukup untuk menjaga kelembapan saluran pernapasan.
Dr. Siti menambahkan, jika mengalami demam tinggi yang tidak turun lebih dari tiga hari, sesak napas atau nyeri dada, serta batuk berat yang mengganggu aktivitas, disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter. “Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi seperti pneumonia, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan penyakit penyerta,” jelasnya.






















