Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi nuklir dan bioetanol untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil. Pengembangan tersebut dilakukan melalui riset reaktor nuklir serta pemanfaatan biomassa, termasuk limbah kelapa sawit, sebagai sumber energi dan bahan baku produk kimia. Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN Nugroho Adi Sasongko menyampaikan hal itu dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (3/11/2026). Riset tersebut diarahkan untuk mendukung diversifikasi energi, mengurangi impor bahan bakar, dan menekan emisi karbon.
“BRIN mengembangkan teknologi energi bersih, transisi energi yang akan disupport dengan backbone dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Selain itu dikembangkan pula teknologi energi terbarukan biofuel,” ujar Nugroho.
Pengembangan teknologi nuklir dan bioetanol menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pasokan energi sekaligus meningkatkan kemampuan industri dalam negeri. Nuklir diproyeksikan menyediakan energi dengan emisi karbon rendah dan pasokan stabil, sedangkan biomassa berpotensi diolah menjadi bahan bakar alternatif serta produk bernilai tambah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Teknologi nuklir diarahkan untuk listrik dan kebutuhan industri
Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN Topan Setiadipura mengatakan teknologi nuklir memiliki densitas energi tinggi dan emisi karbon sepanjang siklus hidup yang relatif rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.
“Nuklir memiliki jejak karbon yang sangat rendah dan densitas energi yang tinggi. Satu pelet bahan bakar nuklir seukuran buku jari mampu menghasilkan energi setara dengan satu ton batu bara secara efisien dan ekonomis,” kata Topan.
Menurut Topan, penguasaan teknologi nuklir perlu disertai perhatian terhadap keselamatan, pengelolaan risiko, serta pengalaman negara-negara yang telah mengoperasikan PLTN. BRIN telah melakukan riset teknologi reaktor nuklir sejak 1996, termasuk mengembangkan High Temperature Gas Cooled Reactor (HTGR), yakni reaktor nuklir berpendingin gas bersuhu tinggi.
Salah satu desain yang dikembangkan BRIN sejak 2017 dinamai PeLUIt, singkatan dari Pembangkit Listrik dan Uap panas. Reaktor tersebut dirancang menghasilkan listrik sekaligus uap panas yang dapat dimanfaatkan oleh sektor industri.
“Desain yang tengah dikembangkan mulai dari 2017 hingga sekarang, kita namakan PeLUIt, yaitu Pembangkit Listrik dan Uap panas. Jadi output-nya ada listrik dan uap panas. Uap panasnya bisa dipakai untuk industri,” ujar Topan.
Pemanfaatan energi panas itu memungkinkan industri memperoleh listrik dan panas proses tanpa sepenuhnya bergantung pada bahan bakar fosil. BRIN juga membuka peluang pengembangan reaktor dalam berbagai kapasitas, termasuk reaktor berukuran kecil.
Namun, penerapan teknologi tersebut masih memerlukan kajian kelayakan teknis dan ekonomi, perizinan, serta pemenuhan standar keselamatan nuklir. Topan juga menyebut potensi pemanfaatan reaktor nuklir untuk sistem propulsi kapal, termasuk kapal militer. Penerapan pada kapal tetap membutuhkan kajian, persyaratan keselamatan, dan regulasi khusus.
Bioetanol dari limbah sawit
Selain reaktor nuklir, BRIN mengembangkan pemanfaatan biomassa melalui pendekatan biorefinery. Kepala Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN Roni Maryana menjelaskan, biorefinery merupakan pengolahan biomassa melalui serangkaian proses untuk menghasilkan berbagai produk, seperti bioetanol, selulosa, dan bahan kimia lainnya.
“Bahan baku untuk menghasilkan energi dan produk kimia selama ini umumnya berasal dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Sebagai alternatif, Indonesia memiliki potensi biomassa lignoselulosa yang sangat besar untuk dimanfaatkan,” ujar Roni.
Riset bioetanol dinilai relevan karena kebutuhan energi transportasi Indonesia masih ditopang bahan bakar fosil. Dalam paparannya, Roni menyebut Indonesia pada 2025 masih mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan bensin. Pada saat yang sama, pengembangan biodiesel telah mencapai tahap B50 dan terus diarahkan menuju B60.
Potensi bahan baku bioetanol juga berasal dari industri kelapa sawit. Dengan luas perkebunan sekitar 16 juta hektare dan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sekitar 40 juta ton, Indonesia memiliki peluang mengolah produk samping perkebunan menjadi bahan bakar alternatif.
Roni memperkirakan pengolahan sekitar 50 juta ton tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dapat menghasilkan sekitar 1,6 juta ton bioetanol per tahun. Estimasi tersebut tetap membutuhkan dukungan ketersediaan bahan baku, efisiensi proses konversi, dan kelayakan ekonomi.
Batang kelapa sawit dari kegiatan peremajaan perkebunan juga berpotensi dimanfaatkan. Menurut Roni, pemanfaatan cairan hasil pemerasan batang sawit dari kegiatan peremajaan sekitar 0,5 persen dari total luas perkebunan dapat menghasilkan sekitar 227.000 ton bioetanol per tahun.
Tantangan pengembangan bioetanol generasi kedua
Pengembangan bioetanol generasi kedua masih menghadapi tantangan pada tahap praperlakuan biomassa, biaya produksi, dan ketergantungan terhadap enzim impor. Biomassa perlu diproses agar komponen selulosa dan hemiselulosa dapat dikonversi menjadi gula sebelum difermentasi menjadi etanol.
Pemisahan komponen selulosa dan hemiselulosa dari lignin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi efisiensi proses dan biaya produksi. Di fasilitas percontohan atau pilot plant, pengolahan TKKS dimulai dengan pengeringan dan penggilingan.
“Di fasilitas percontohan (pilot plant), pengolahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) diawali dengan proses pengeringan dan penggilingan. Tahapan tersebut menghasilkan bahan baku yang siap diumpankan ke proses pengolahan selanjutnya,” jelas Roni.
BRIN telah memiliki fasilitas percontohan bioetanol generasi kedua seluas 70 meter persegi. Rangkaian produksinya mencakup praperlakuan, sakarifikasi atau pemecahan komponen karbohidrat menjadi gula, fermentasi, distilasi, dan dehidrasi.
Untuk mendorong pengembangan teknologi tersebut, BRIN menjalin kerja sama riset dengan Astra Agro Lestari dan Toyota Astra Motor. Hasil pengembangan bioetanol itu pernah diperkenalkan dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2023.
Ketahanan energi membutuhkan keamanan infrastruktur
Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan Mayjen TNI Fitry Taufiq Sahary mengatakan ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan listrik dan bahan bakar. Menurut dia, penguatan ketahanan energi perlu mencakup diversifikasi sumber energi, hilirisasi potensi domestik, penguatan sumber daya manusia, dan kerja sama internasional.
“Penguatan ketahanan nasional memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup hilirisasi potensi bioetanol domestik dan diversifikasi sumber energi. Upaya tersebut juga perlu didukung penguatan sumber daya manusia, pemanfaatan kerja sama internasional, serta diplomasi internasional,” ujarnya.
Fitry menambahkan, digitalisasi sektor energi perlu diikuti perlindungan terhadap infrastruktur informasi vital. Sistem digital yang mendukung pembangkit, distribusi, dan pengelolaan energi harus dilindungi dari gangguan maupun serangan siber yang dapat mengancam keberlangsungan layanan.
“Riset dan inovasi teknologi energi bersih perlu berjalan beriringan dengan penguatan keamanan infrastruktur informasi vital. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan nasional,” katanya.
Pengembangan reaktor nuklir dan bioetanol memberi dua jalur diversifikasi energi melalui riset nasional. Tahap berikutnya ialah memastikan teknologi tersebut memenuhi standar keselamatan, kompetitif secara ekonomi, dan dapat diterapkan dalam skala lebih luas untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















