Headline.co.id, Jakarta ~ Sebanyak 653 abstrak mengikuti tahap reviu dalam konferensi internasional Mu’tamad 2026 yang diinisiasi Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Abstrak tersebut didaftarkan oleh mahasantri, mahasiswa, akademisi, peneliti, praktisi, serta komunitas pesantren dari dalam dan luar negeri pada 7–14 Oktober 2026. Mu’tamad 2026 digelar untuk memperkuat transformasi pesantren, mendiseminasikan nilai Islam Wasathiyah, serta memperluas kolaborasi dengan lembaga pendidikan global. Konferensi ini dijadwalkan berlangsung di Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada 29–30 Oktober 2026.
Sebanyak 653 abstrak itu berasal dari Ma’had Aly, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), pondok pesantren, lembaga pendidikan, hingga institusi luar negeri. Seluruhnya kini memasuki tahap verifikasi dan penilaian oleh tim reviewer.
Mu’tamad merupakan singkatan dari Al-Multaqa Ad-Dawli Lid-Dirasah Al-Islamiyah Wal Insaniyah Wal Hadariyah. Konferensi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 sekaligus forum akademik untuk merumuskan harmonisasi kurikulum dan standar mutu, mengembangkan peta jalan internasionalisasi pesantren, serta memperluas kerja sama pesantren Indonesia dan lembaga pendidikan global.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
653 Abstrak Jadi Modal Kebijakan Pesantren
Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said menyambut positif partisipasi akademik dalam Mu’tamad 2026. Ia menilai jumlah abstrak yang masuk menunjukkan antusiasme peserta sekaligus besarnya potensi intelektual komunitas pesantren dalam merespons tantangan pendidikan, kemanusiaan, dan perkembangan peradaban.
“Bagi kami, 653 abstrak ini bukan semata angka partisipasi. Di dalamnya terdapat peta persoalan, kebutuhan, sekaligus tawaran gagasan dari komunitas akademik dan dunia pesantren. Ini merupakan modal intelektual yang sangat berharga bagi Ditjen Pesantren untuk membangun kebijakan yang lebih terarah, berbasis bukti, dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan pesantren,” ujar Basnang di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Basnang mengatakan, kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren sebagai unit eselon I tersendiri di Kementerian Agama perlu ditopang ekosistem riset yang kuat. Karena itu, Mu’tamad diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga rekomendasi strategis yang dapat ditindaklanjuti dalam penguatan kelembagaan, peningkatan mutu pendidikan, transformasi digital, dan pengembangan jejaring kerja sama internasional.
“Tradisi keilmuan pesantren adalah kekuatan yang harus terus kita rawat. Namun, kekuatan itu juga harus mampu melahirkan jawaban atas persoalan zaman. Kita ingin pesantren tidak hanya menjadi objek perubahan, tetapi turut menjadi produsen pengetahuan, penggerak transformasi, dan penyumbang gagasan bagi arah peradaban dunia,” tegasnya.
Direktur Ma’had Aly, Dr. H. Adib, M.Ag., juga mengapresiasi keterlibatan para mudir Ma’had Aly, pengasuh pondok pesantren, mahasantri, mahasiswa, akademisi, peneliti, dan praktisi. Menurutnya, respons tersebut mencerminkan kuatnya perhatian komunitas akademik terhadap pengembangan pesantren dan pendidikan Islam.
Adib menegaskan, gagasan peserta tidak diharapkan berhenti pada diskursus akademik, tetapi turut berkontribusi terhadap pengembangan kebijakan pesantren.
“Gagasan-gagasan ini menjadi masukan strategis berbasis data empiris dalam mengawal arah kebijakan awal Ditjen Pesantren di bawah kepemimpinan Bapak Dirjen guna menopang visi besar Menteri Agama RI,” ungkap Adib.
Pesantren Transformatif Jadi Subtema Terpopuler
Mu’tamad 2026 mengusung tema “Menuju Pesantren Transformatif dalam Kajian Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia”. Call for Papers dibagi ke dalam delapan klaster subtema, lain Islam Wasathiyah, transformasi pesantren, internasionalisasi pesantren, warisan Islam Indonesia, kajian Islam dan kemanusiaan, harmonisasi kurikulum, serta transformasi digital.
Ketua Panitia Mu’tamad 2026 Agus M. Aminulloh Mahin, M.Pd., mengatakan, tema Pesantren Transformatif: Kurikulum, Pedagogi, dan Standar Mutu menjadi subtema paling banyak diminati dengan 134 judul.
Berikutnya, Kajian Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia memperoleh 129 judul. Subtema Islam Wasathiyah dan Pendidikan Islam Moderat tercatat sebanyak 100 judul, sedangkan Transformasi Digital, Inovasi, dan Pesantren mendapat 99 judul.
Pemetaan topik juga menunjukkan perhatian peserta terhadap isu-isu kontemporer. Digitalisasi dan media muncul dalam 98 judul, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebanyak 46 judul, ekologi dan keberlanjutan 34 judul, serta akreditasi dan penjaminan mutu 31 judul.
Isu lain yang turut dibahas meliputi gender dan hak perempuan, kesehatan mental dan psikologi, perlindungan anak dan antikekerasan, ekonomi dan pemberdayaan sosial, serta literasi digital dan disinformasi.
Menurut Agus, keragaman tema itu menunjukkan pesantren tidak hanya berfokus pada penguatan tradisi keilmuan Islam, tetapi juga merespons perkembangan teknologi, persoalan lingkungan, peningkatan mutu pendidikan, dan isu sosial kontemporer.
“Keragaman tema yang masuk menunjukkan luasnya perhatian akademisi dan komunitas pesantren khususnya Ma’had Aly terhadap tantangan yang berkembang saat ini. Transformasi pesantren tetap berpijak pada tradisi keilmuan, tetapi pada saat yang sama juga harus mampu merespons perkembangan zaman,” ujar Gus Aminulloh.
Peserta Mu’tamad 2026 Berasal dari Sembilan Negara
Partisipasi dalam Mu’tamad 2026 tidak hanya berasal dari Indonesia. Wakil Ketua Panitia Mu’tamad 2026 M. Syarif Subhan mengatakan, akademisi dari sejumlah institusi pendidikan luar negeri turut mengirimkan abstrak.
Peserta internasional berasal dari Pakistan, India, Malaysia, Britania Raya, Australia, Maroko, Mesir, Taiwan, dan Yordania. Pakistan menjadi negara dengan jumlah pengirim terbanyak, yakni sembilan peserta, disusul India delapan peserta, Malaysia empat peserta, dan Britania Raya dua peserta.
Sementara itu, Australia, Maroko, Mesir, Taiwan, dan Yordania masing-masing mencatat satu pengirim.
“Partisipasi dari berbagai negara ini memperlihatkan bahwa Mu’tamad mendapat respons tidak hanya dari komunitas akademik dalam negeri, tetapi juga dari jejaring akademik internasional,” ungkap Subhan.
Setelah tahap penilaian awal, peserta terpilih akan melanjutkan ke tahap pengiriman full paper. Naskah yang dinyatakan lolos selanjutnya dipilih menjadi panelis untuk dipresentasikan dalam Sesi Parallel Mu’tamad 2026.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















