Headline.co.id, Tangerang Selatan ~ Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo meninjau pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak berkebutuhan khusus di Sekolah Khusus Negeri 01 Kota Tangerang Selatan, Kamis (15/10/2026). Program tersebut dijalankan Grab dan OVO bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa dengan memanfaatkan teknologi digital untuk pemesanan, pengiriman, dan pelaporan layanan. Peninjauan dilakukan untuk melihat pemenuhan kebutuhan gizi anak berkebutuhan khusus melalui menu yang disesuaikan dengan karakteristik penerima manfaat.
Program MBG anak berkebutuhan khusus itu menggunakan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) Grab dan OVO. Pelaksanaannya melibatkan pelaku usaha kuliner di sekitar sekolah sebagai mitra penyedia makanan dan telah menjangkau sekitar 5.000 murid di 12 kabupaten/kota sejak 2024.
Dalam kunjungannya, Angga mengapresiasi kolaborasi sektor swasta dan yayasan dalam mendukung program prioritas pemerintah. Menurut dia, pemenuhan gizi bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian terhadap kandungan makanan serta penyesuaian menu berdasarkan kebutuhan masing-masing anak.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Ini adalah bukti sinergi bahwa program prioritas pemerintah tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga teman-teman yang berusaha di Indonesia, perusahaan-perusahaan atau yayasan-yayasan yang memiliki kepedulian juga memahami pentingnya program ini,” ujar Wamen Angga.
Angga mengatakan, penyesuaian menu terlihat dalam makanan yang disajikan kepada siswa di Sekolah Khusus Negeri 01 Kota Tangerang Selatan. Ia menilai makanan tersebut telah memperhatikan kebutuhan protein dan karbohidrat anak.
“Alhamdulillah, tadi saya lihat sendiri anak-anak senang. Makanannya juga sangat baik, penyajiannya dari sisi gizi dan menu yang disajikan sangat baik, sesuai kebutuhan protein, kebutuhan karbohidrat. Karena di sini adalah sekolah khusus, dari anak-anak yang berbagai macam kebutuhan khusus, menunya juga disesuaikan,” tuturnya.
Ia menilai pemahaman terhadap karakteristik penerima manfaat menjadi bagian penting agar pelaksanaan MBG memberikan manfaat secara optimal. Menurut Angga, negara dan pihak-pihak yang terlibat perlu memastikan layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anak.
Proses pemesanan hingga pelaporan dilakukan secara digital
Selain meninjau penyajian makanan, Angga menyoroti penggunaan teknologi digital dalam operasional program MBG yang dijalankan Grab dan OVO. Berdasarkan hasil peninjauan, sistem layanan mencakup pemesanan menu oleh pihak sekolah, proses pengiriman, hingga pelaporan apabila terdapat kekurangan dalam penyajian.
“Setelah ini, tadi kita lihat prosesnya bahwa semuanya full digital. Dari mulai proses pemesanan, sekolah menggunakan aplikasi yang disiapkan oleh Grab untuk memesan menu seminggu ke depan. Kemudian dari proses delivery-nya juga melibatkan mitra-mitra dari Grab sendiri, sampai nanti proses pelaporan,” jelas Angga.
Menurut dia, kolaborasi tersebut memperlihatkan kontribusi penyelenggara sistem elektronik terhadap program sosial melalui pemanfaatan teknologi dan jejaring mitra. Angga berharap praktik yang telah berjalan dapat menjadi contoh untuk dipelajari dan dikembangkan agar layanan serupa dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
Jangkauan program dan keterlibatan mitra usaha
Grab dan OVO menjalankan program tersebut bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa dengan melibatkan sekitar 40 mitra usaha. Pendanaan program berasal dari CSR dan ditujukan untuk mendukung penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak, termasuk siswa berkebutuhan khusus.
Di Sekolah Khusus Negeri 01 Kota Tangerang Selatan, satu mitra usaha menyiapkan sekitar 280 porsi makanan setiap hari. Mitra lokal tersebut menjadi bagian dari mekanisme penyediaan makanan melalui jejaring usaha yang dikoordinasikan Grab dan OVO bersama yayasan.
Untuk menjaga kualitas layanan, Grab dan OVO mengikuti standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk mengenai kandungan gizi, kebersihan, dan kualitas makanan. Perusahaan juga bekerja sama dengan dinas kesehatan serta ahli gizi.
Mitra usaha yang terlibat dalam penyediaan makanan disebut telah memperoleh sertifikasi sesuai keterangan pihak penyelenggara. Keterlibatan pelaku usaha di sekitar sekolah menjadi bagian dari pelaksanaan program, sekaligus mendukung penyediaan makanan melalui jaringan mitra yang telah dibangun.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















