Headline.co.id, Palangka Raya ~ Integrasi keilmuan dinilai penting untuk mengembangkan kajian Al-Qur’an dan tafsir yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama, Sahiron, menyampaikan hal itu dalam The 9th Annual Meeting of AIAT se-Indonesia & International Conference di UIN Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (14/10/2026). Dalam forum bertema “The Qur’an Across Traditions (Al-Qur’an dalam Lintas Tradisi)” tersebut, ia mendorong akademisi memadukan ilmu agama dengan disiplin lain, termasuk teknologi kecerdasan buatan (AI), lingkungan, kesehatan, kehutanan, dan sosial. Menurut Sahiron, langkah itu diperlukan agar kajian Al-Qur’an tidak berhenti di ruang akademik, tetapi menghasilkan solusi yang komprehensif dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Sahiron menjelaskan, terdapat tiga pendekatan integrasi keilmuan yang perlu dikembangkan oleh para akademisi. Ketiganya adalah integrasi metodis, integrasi substansial, dan integrasi etis.
Integrasi metodis dilakukan melalui perpaduan metode dan perspektif penelitian. Adapun integrasi substansial ditempuh dengan mempertemukan substansi kajian Islam dan ilmu lainnya. Sementara itu, integrasi etis menghubungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai sosial keagamaan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kita memiliki tugas untuk melakukan integrasi keilmuan. Setidaknya, ada tiga hal yang perlu dikembangkan, yaitu integrasi metodis, integrasi substansial, dan integrasi etis,” jelas Sahiron.
Integrasi keilmuan untuk menjawab persoalan kebakaran hutan
Menurut Sahiron, tiga pendekatan tersebut penting agar kajian Al-Qur’an dan tafsir dapat digunakan untuk memahami persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Ia mencontohkan kebakaran hutan di Kalimantan sebagai masalah yang membutuhkan analisis lintas disiplin.
Persoalan tersebut, kata dia, perlu dikaji melalui ilmu lingkungan, kehutanan, kesehatan, sosial, dan keagamaan. Pendekatan lintas bidang itu diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang menyeluruh sekaligus mendorong lahirnya solusi yang berkelanjutan.
Dengan demikian, kajian Al-Qur’an tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memiliki keterkaitan langsung dengan persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat. Nilai-nilai keagamaan dapat digunakan untuk membangun kepedulian serta tanggung jawab dalam menjaga kelestarian alam.
Sahiron dorong pengembangan AI untuk kajian Al-Qur’an
Selain mengaitkan kajian Al-Qur’an dengan isu lingkungan, Sahiron menantang para akademisi mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk mendukung kajian Al-Qur’an dan tafsir.
Salah satu gagasan yang disampaikan ialah pengembangan robotika berbasis AI dengan basis data tafsir klasik, seperti Tafsir al-Thabari. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu menjawab pertanyaan keagamaan secara cepat dan sistematis.
Namun, Sahiron menekankan bahwa pemanfaatan teknologi dalam kajian keagamaan harus disertai sumber rujukan yang tepercaya. Proses pengembangan dan penggunaannya juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Menurutnya, kemudahan mengakses informasi keagamaan perlu diimbangi dengan ketelitian dan otoritas sumber. Dengan cara itu, penggunaan AI tidak hanya mengutamakan kecepatan, tetapi juga menjaga kualitas serta kredibilitas informasi yang disampaikan.
Selaras dengan Kurikulum Berbasis Cinta
Sahiron menilai integrasi ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan sejalan dengan Kurikulum Berbasis Cinta yang digaungkan Menteri Agama. Kurikulum tersebut menanamkan cinta kepada Allah SWT, sesama manusia, dan alam.
Semangat itu juga dinilai selaras dengan ekoteologi. Dalam pendekatan ini, nilai-nilai keagamaan menjadi landasan untuk membangun tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Ia berharap pengembangan kajian Al-Qur’an dan tafsir dapat mendorong kepedulian sosial, solidaritas kemanusiaan, serta tindakan nyata dalam merawat lingkungan. Kajian tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan pemahaman akademik, tetapi juga memberi kontribusi terhadap penyelesaian persoalan masyarakat.
Menutup penyampaiannya, Sahiron mengajak peserta mendoakan masyarakat dan wilayah yang terdampak kebakaran hutan agar segera pulih.
“Marilah kita bersama-sama berdoa agar bencana kebakaran yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia segera berakhir, kondisi segera pulih, dan masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal,” pungkas Sahiron.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















