Headline.co.id, Bekasi ~ Universitas Indonesia (UI) memperkuat komunikasi orang tua dan remaja untuk mencegah kecanduan gim serta kebiasaan merokok. Upaya itu dilakukan Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI melalui program pengabdian kepada masyarakat di Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, pada pertengahan September 2026. Program tersebut melibatkan 40 peserta yang terdiri atas 20 pasangan orang tua dan remaja melalui dua tahap visitasi intensif. Penguatan komunikasi dilakukan agar keluarga menjadi ruang pertama bagi remaja untuk menyampaikan persoalan dan menghadapi tekanan lingkungan yang dapat memicu perilaku adiktif.
Program FIK UI itu dilaksanakan secara kolaboratif bersama Komunitas Saung Belajar (KSB). Peserta tidak hanya menerima edukasi mengenai risiko kecanduan gim dan rokok, tetapi juga memperoleh keterampilan berkomunikasi secara terbuka, tegas, dan tidak memicu konflik.
Ketua tim pengmas dari Klaster Mental Health & Psychiatric Nursing FIK UI, Herni Susanti, mengatakan pencegahan adiksi pada remaja perlu dilakukan dengan memperhatikan kualitas hubungan orang tua dan anak. Menurut dia, komunikasi yang baik dapat membuat remaja merasa aman untuk bercerita, sekaligus membantu orang tua memahami persoalan yang dihadapi anak.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Kami ingin keluarga jadi tempat pertama bagi anak untuk berbicara tentang masalahnya. Makanya, fokusnya bukan hanya edukasi soal bahaya adiksi, tapi juga bagaimana caranya orang tua dan anak bisa ngobrol dengan baik dan nyaman,” ujar Herni, dalam keterangan tertulis yang diterima , Selasa (6/10/2026).
Komunikasi Orang Tua dan Remaja Jadi Fokus Pencegahan
Penguatan komunikasi orang tua dan remaja dilakukan di tengah tantangan perilaku merokok pada kelompok usia muda. Data Kementerian Kesehatan pada 2024 mencatat sekitar 70 juta perokok aktif di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 7,4 persen berasal dari kelompok usia 10–18 tahun.
Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) juga mencatat prevalensi perokok pada pelajar usia 13–15 tahun meningkat dari 18,3 persen pada 2016 menjadi 19,2 persen pada 2019.
Dalam program tersebut, peserta pada tahap pertama diajak memahami mekanisme munculnya adiksi gim dan rokok. Mereka juga membahas berbagai tantangan yang dapat memengaruhi remaja, termasuk tekanan dari lingkungan pertemanan atau peer pressure.
Orang tua dan remaja kemudian mendapatkan pelatihan komunikasi asertif melalui teknik Say-No dan I-Language. Teknik tersebut digunakan untuk membantu anggota keluarga menyampaikan pendapat, kebutuhan, maupun penolakan secara tegas tanpa harus memicu pertengkaran.
Pendekatan itu juga membekali orang tua agar dapat menetapkan batasan yang jelas tanpa menggunakan komunikasi yang menghakimi atau mengekang. Sementara itu, remaja dilatih menyampaikan sikap dan kebutuhannya dengan lebih terbuka.
Orang Tua dan Remaja Menyusun Aturan Bersama
Pada tahap kedua, peserta mengevaluasi penerapan komunikasi di lingkungan rumah. Orang tua dan remaja menyusun strategi pengawasan yang tetap memberikan ruang bagi kemandirian remaja.
Mereka juga membuat aturan bersama yang disepakati seluruh anggota keluarga. Dengan cara tersebut, pengawasan tidak hanya ditempatkan sebagai bentuk pembatasan, tetapi juga menjadi bagian dari kesepakatan yang dipahami oleh orang tua dan anak.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penandatanganan pakta komitmen keluarga. Peserta juga menyusun rencana tindak lanjut yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
Program tersebut dipimpin Prof. Herni bersama tim Departemen Keperawatan Jiwa FIK UI, yakni Novy Helena Catharina Daulima, Ria Utami Panjaitan, dan Dian Fitria. Kegiatan itu turut melibatkan akademisi Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Dr. Anugriaty Indah Asmarany serta pendiri KSB Citra Amelia.
Pendiri KSB Citra Amelia mengatakan pendekatan berbasis komunitas diperlukan karena sebagian orang tua telah memahami risiko perilaku adiktif, tetapi belum mengetahui cara membangun komunikasi yang efektif dengan anak.
“Banyak orang tua di sini sebenarnya bingung harus mulai dari mana. Program ini sangat membantu anak dan orang tua untuk jadi lebih dekat dan terbuka untuk berkomunikasi, sehingga anak tidak lari ke adiksi,” kata Citra.
Dampak Komunikasi Terbuka bagi Keluarga
Penguatan hubungan orang tua dan remaja dalam program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mencegah kecanduan gim dan kebiasaan merokok. Komunikasi yang lebih terbuka juga menjadi bagian dari upaya mendukung kesehatan mental, ketahanan keluarga, serta tumbuh kembang generasi muda.
Melalui program itu, UI menerapkan kepakaran akademik dalam intervensi berbasis masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan diharapkan dapat digunakan keluarga untuk menghadapi persoalan sosial dan kesehatan yang berkembang di lingkungan remaja.
Kegiatan tersebut juga menunjukkan peran perguruan tinggi yang tidak berhenti pada pendidikan dan penelitian. FIK UI menerjemahkan pendekatan keperawatan jiwa dan psikologi ke dalam praktik komunikasi yang dapat diterapkan langsung oleh orang tua dan remaja di rumah.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


![[SIARAN PERS] KLHK Minta Pemda Kendalikan Sampah Mudik](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/10/siaran-pers-klhk-minta-pemda-kendalikan-sampah-mudik.jpg)











