Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Skenario terburuk gempa bumi megathrust di segmen Aceh-Andaman menjadi salah satu potensi bahaya yang dipaparkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, segmen tersebut memiliki potensi magnitudo maksimum M9,2. Dalam skenario yang disampaikan BMKG, gempa sebesar itu dapat menghasilkan guncangan maksimal hingga VIII MMI dan memicu tsunami yang di beberapa lokasi Pantai Barat Sumatera berpotensi mencapai lebih dari 10 meter. Namun, BMKG menegaskan informasi tersebut bukan prediksi bahwa gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat.
Megathrust Aceh-Andaman merupakan satu dari 14 segmen megathrust yang tercantum dalam materi mengenai sumber gempa Indonesia dan kawasan sekitarnya. Keberadaan zona tersebut berkaitan dengan kondisi Indonesia yang berada di wilayah tektonik aktif dengan sejumlah zona subduksi.
Megathrust terbentuk pada zona pertemuan dua lempeng tektonik. Salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya dan bidang pertemuan antarlempeng dapat terkunci. Ketika energi yang tersimpan dilepaskan, gempa berkekuatan besar dengan bidang patahan luas dapat terjadi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Skenario Terburuk Megathrust Aceh-Andaman
BMKG memasukkan Aceh-Andaman sebagai segmen dengan nilai Mmax terbesar dalam daftar 14 zona megathrust yang disebut berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Nilainya mencapai M9,2.
BMKG menggambarkan skenario terburuk apabila gempa pada segmen tersebut mencapai magnitudo maksimum yang diperhitungkan. Guncangan gempa dapat mencapai intensitas maksimal VIII MMI dan berpotensi berdampak pada bangunan.
Angka M9,2 dalam skenario tersebut harus dipahami sebagai nilai magnitudo maksimum yang digunakan dalam pemodelan sumber gempa. Nilai tersebut bukan informasi mengenai waktu kejadian dan tidak berarti gempa dengan kekuatan yang sama dipastikan terjadi.
BMKG menyatakan Indonesia memang memiliki sejumlah zona subduksi yang dapat menjadi sumber gempa kuat. “Indonesia berada di wilayah tektonik yang aktif dan memiliki sejumlah zona subduksi yang berpotensi menjadi sumber gempa kuat. Megathrust merupakan sumber gempa pada zona subduksi, ketika dua lempeng tektonik saling berinteraksi,” tulis BMKG dalam unggahan Instagram, Sabtu (26/9/2026).
Potensi Tsunami di Pantai Barat Sumatera
Salah satu dampak yang diperhitungkan dalam skenario gempa megathrust Aceh-Andaman adalah tsunami. BMKG menyebut Pantai Barat Sumatera memiliki potensi ketinggian tsunami di garis pantai lebih dari 3 meter dan di sejumlah lokasi dapat melampaui 10 meter.
“Wilayah Pantai Barat Sumatera memiliki potensi ketinggian tsunami di garis pantai hingga lebih dari 3 meter dan di beberapa lokosi hingga lebih dari 10 meter,” tulis BMKG dalam unggahan Instagram pada Rabu (23/9).
Informasi tersebut menjadi dasar pentingnya kesiapsiagaan bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di kawasan berpotensi terdampak. BMKG mengimbau masyarakat mengenali jalur serta titik evakuasi dan berlatih melakukan kesiapsiagaan bersama keluarga maupun komunitas.
BMKG juga meminta masyarakat menyiapkan tas siaga bencana, memperhatikan prinsip bangunan tahan gempa, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Langkah tersebut diperlukan karena waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Gempa Kuat?
Masyarakat di kawasan pantai diminta memahami tanda alam yang dapat menjadi alasan untuk segera melakukan evakuasi. BMKG mengingatkan gempa yang dirasakan kuat atau guncangan yang berlangsung lebih dari 30 detik, sekitar 20 hitungan, perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan tsunami dalam waktu singkat.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat diminta menjauhi pantai dan tepi sungai serta mencari informasi mengenai situasi yang terjadi. Informasi peringatan dini tsunami dapat diperoleh melalui televisi nasional, radio daerah, maupun pengumuman di sekitar wilayah kejadian.
Jika sirene, kentongan, atau alat peringatan lain terdengar, masyarakat diminta segera menuju lokasi aman. Apabila tidak mengetahui lokasi evakuasi yang telah ditentukan, masyarakat diarahkan bergerak sejauh mungkin dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi.
Langkah evakuasi menjadi bagian penting dari mitigasi karena tsunami dapat tiba dalam waktu singkat setelah gempa kuat. Karena itu, pengetahuan mengenai jalur evakuasi perlu dimiliki sebelum bencana terjadi.
BMKG Siapkan 533 Sensor dan InaTEWS
Selain mendorong kesiapsiagaan masyarakat, BMKG telah menyiapkan perangkat pemantauan untuk mendeteksi kejadian gempa dan mendukung penyebaran informasi peringatan dini. Sebanyak 533 sensor seismograf disiapkan sebagai bagian dari upaya pemantauan aktivitas kegempaan.
BMKG juga mengoperasikan Indonesia Tsunami Early Warning System atau InaTEWS. Sistem tersebut digunakan untuk melakukan deteksi secara cepat dan menyebarkan informasi peringatan kepada masyarakat luas ketika terjadi kondisi yang berpotensi menimbulkan tsunami.
Meski teknologi pemantauan dan sistem peringatan tersedia, BMKG tetap menekankan kesiapsiagaan individu, keluarga, dan komunitas. Masyarakat diminta mengenali risiko wilayah masing-masing serta mengandalkan informasi yang telah terverifikasi.
Skenario Megathrust Aceh-Andaman dengan Mmax 9,2 dengan demikian bukan ramalan kapan bencana akan terjadi, melainkan gambaran potensi bahaya yang diperhitungkan berdasarkan karakteristik sumber gempa. Informasi tersebut menjadi dasar untuk meningkatkan kesiapan menghadapi gempa bumi dan tsunami tanpa menyimpulkan bahwa kejadian tersebut akan berlangsung dalam waktu dekat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















