Headline.co.id, Jakarta ~ Bekal imam masa kini untuk berkontribusi dalam mewujudkan perdamaian dunia tidak cukup hanya berupa penguasaan ilmu keagamaan. Ahmed Nabawi, Sekretaris Jenderal Majelis Tertinggi Urusan Agama Islam sekaligus Anggota Kantor Teknis Kementerian Wakaf Mesir, menyebut imam perlu memiliki tiga pilar utama, yakni metodologi keagamaan yang moderat, kelengkapan keilmuan, dan akhlak. Hal itu disampaikan Ahmed dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026). Menurut dia, ketiga bekal tersebut diperlukan agar imam mampu menghadapi perbedaan, membaca perubahan sosial, memanfaatkan teknologi, dan membangun perdamaian yang berakar pada ajaran serta keteladanan Nabi Muhammad SAW.
“Peran imam dalam mewujudkan perdamaian dunia harus berakar pada ajaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Ada tiga pilar fundamental yang harus menjadi pegangan setiap imam pada masa sekarang,” ujar Ahmed.
Ia menjelaskan, peran imam di tengah masyarakat terus berkembang. Imam tidak hanya dituntut menyampaikan ajaran agama, tetapi juga perlu memiliki keluasan perspektif untuk merespons persoalan umat dan perbedaan pandangan secara bijaksana.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Moderasi sebagai bekal imam masa kini
Pilar pertama yang disampaikan Ahmed adalah berpegang pada metodologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Menurut dia, metodologi yang moderat dapat memberikan keluasan cara pandang sekaligus membentuk sikap toleran pada diri seorang imam.
Ahmed menilai metodologi keagamaan yang kokoh diperlukan agar imam mampu mengakomodasi perbedaan pendapat tanpa terjebak dalam sikap kaku. Penguatan institusi keilmuan yang memiliki metodologi kuat juga dinilai penting untuk membendung berkembangnya gagasan ekstrem dan menyimpang.
“Ketika metodologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang moderat tertanam kuat dalam pemikiran seorang imam, ia akan memiliki perspektif yang luas, toleransi, dan kemampuan untuk mengakomodasi perbedaan pendapat,” tuturnya.
Dengan bekal tersebut, imam diharapkan dapat menyampaikan ajaran agama secara bijaksana. Kerangka keilmuan yang moderat membuat seorang imam tidak hanya memahami perbedaan, tetapi juga mampu menyikapinya secara proporsional.
Imam perlu menguasai ilmu agama dan disiplin kontemporer
Pilar kedua adalah kelengkapan perangkat keilmuan. Ahmed mengatakan imam tetap harus menguasai fondasi ilmu-ilmu keislaman, termasuk bahasa, fikih, usul al-fiqh, serta ilmu-ilmu berbasis naqli dan aqli.
Namun, ia mengingatkan bahwa kompleksitas kehidupan masyarakat saat ini membuat penguasaan ilmu keagamaan saja tidak cukup. Imam juga perlu memahami disiplin ilmu kontemporer yang dapat membantunya membaca perubahan sosial dan berbagai persoalan umat.
Ahmed secara khusus menyebut psikologi, sosiologi, dan media digital sebagai bidang yang perlu dipahami imam masa kini. Pengetahuan tersebut dibutuhkan agar imam dapat menghadapi persoalan kehidupan nyata dengan bijaksana, tanpa bersikap terlalu kaku dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip agama.
Kebutuhan itu semakin penting karena masyarakat semakin terhubung dengan teknologi. Media sosial dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi bagian dari ruang yang digunakan masyarakat untuk memperoleh, mempertukarkan, dan memaknai informasi.
“Di era media sosial dan kecerdasan buatan, imam harus mampu menguasai perangkat-perangkat modern ini untuk menyampaikan kebaikan, menangkal keburukan, dan memainkan peran penting dalam mewujudkan perdamaian dunia,” tegas Ahmed.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan imam dalam menggunakan teknologi tidak hanya berkaitan dengan penyampaian pesan keagamaan. Penguasaan perangkat modern juga diperlukan untuk menghadirkan kebaikan dan menangkal keburukan di ruang yang semakin dipengaruhi media sosial serta AI.
Akhlak menjadi fondasi kepemimpinan imam
Pilar ketiga yang ditekankan Ahmed adalah akhlak. Menurut dia, kemampuan keilmuan dan penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan karakter yang mencerminkan nilai-nilai Islam.
Ahmed merujuk pada keteladanan Nabi Muhammad SAW yang menempatkan penyempurnaan akhlak mulia sebagai bagian penting dari risalah kenabian. Karena itu, seorang imam perlu menghadirkan kesabaran, kelapangan hati, kasih sayang, serta kepedulian yang tulus terhadap kesejahteraan masyarakat yang dilayaninya.
Akhlak menjadi unsur penting dalam kepemimpinan imam karena ilmu dan teknologi, tanpa keteladanan, tidak cukup untuk membangun hubungan yang baik dengan masyarakat. Imam juga dituntut menghadirkan nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Tiga pilar yang disampaikan Ahmed memperlihatkan luasnya kompetensi yang dibutuhkan imam di tengah perubahan zaman. Imam perlu memiliki fondasi keagamaan yang kokoh, wawasan untuk membaca dinamika masyarakat, kemampuan memanfaatkan perkembangan teknologi, serta akhlak yang dapat menjadi teladan dalam kehidupan sosial.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















