Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Rusia menggelar pemilu parlemen selama tiga hari mulai Jumat hingga Minggu, 18-20 September 2026, untuk memilih 450 anggota State Duma, majelis rendah parlemen negara tersebut. Pemungutan suara yang diikuti sekitar 111 juta pemilih yang memenuhi syarat ini menjadi pemilu parlemen pertama sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022. Pemilu berlangsung ketika masyarakat Rusia menghadapi perlambatan ekonomi serta serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang dan gudang yang berada jauh dari garis depan. Selain memilih anggota Duma, warga juga memberikan suara dalam sejumlah pemilihan lokal. Al Jazeera +1
United Russia, partai pemerintahan yang mendukung Presiden Vladimir Putin, memasuki pemilu dengan posisi kuat setelah memperoleh lebih dari dua pertiga kursi Duma pada pemilu 2021. Sumber artikel menyebut partai tersebut kembali diperkirakan mempertahankan posisi dominannya, sementara sejumlah partai oposisi sistemik dan partai kecil juga bersaing mendapatkan kursi. Di sisi lain, para pengkritik menilai pilihan politik bagi pemilih terbatas karena tidak ada oposisi yang mereka anggap benar-benar kompetitif dalam daftar partai. Al Jazeera
Pemilu Berlangsung Tiga Hari untuk Memilih 450 Anggota Duma
Pemungutan suara berlangsung selama tiga hari dengan tujuan meningkatkan partisipasi pemilih. Pemilu juga mencakup wilayah Ukraina yang diduduki Rusia dan menyediakan pilihan pemungutan suara elektronik. Dari total 450 kursi State Duma, separuh dialokasikan berdasarkan daftar partai, sedangkan 225 kursi lainnya diperebutkan melalui pemilihan distrik satu mandat. Al Jazeera
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pemilih juga mengikuti pemilihan tingkat daerah. Sebanyak 11 wilayah memilih gubernur, sedangkan 39 wilayah lainnya memilih anggota badan legislatif regional. Dengan skema tersebut, pemilu akhir pekan ini tidak hanya menentukan susunan parlemen federal, tetapi juga sejumlah jabatan dan lembaga politik di tingkat regional.
United Russia Pertahankan Posisi Sentral di Parlemen
United Russia dibentuk pada 2001 melalui penggabungan sejumlah kelompok politik pro-Kremlin dan sejak itu mendukung Putin serta mendominasi parlemen Rusia. Dalam pemilu 2021, partai tersebut memperoleh lebih dari dua pertiga kursi Duma. Daftar kandidat partainya kali ini dipimpin Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dan Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin. Al Jazeera
Tokoh lain yang mendapat posisi tinggi dalam daftar United Russia adalah koresponden perang Yevgeny Poddubny, yang pernah terluka parah akibat serangan pesawat nirawak Ukraina. Para anggota United Russia menyatakan dukungan terhadap upaya perang dan sasaran Putin dalam konflik yang oleh Kremlin disebut sebagai 'operasi militer khusus' di Ukraina.
Partai Komunis hingga New People Ikut Berebut Kursi
Selain United Russia, sejumlah partai yang kerap disebut sebagai oposisi sistemik juga mengikuti pemilu. Partai Komunis telah menjadi salah satu kekuatan utama di Federal Assembly sejak dekade 1990-an dan selama lebih dari tiga dekade dipimpin Gennady Zyuganov, mantan pejabat Soviet yang kini berusia 82 tahun. Partai tersebut mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah, tetapi mendukung perang di Ukraina.
Analis politik dan jurnalis independen Alexander Bratersky menilai perebutan posisi kedua menjadi salah satu perkembangan yang dapat diamati. Menurut dia, apabila Partai Komunis memperoleh posisi tersebut, hasil itu dapat 'menunjukkan pemilih marah terhadap kesulitan ekonomi dan menurunnya standar hidup'. Pernyataan tersebut merupakan interpretasi Bratersky terhadap kemungkinan makna hasil pemilu, bukan hasil penghitungan suara yang telah ditetapkan.
Liberal Democratic Party, kekuatan ultranasionalis yang telah berada di parlemen sejak awal 1990-an, juga mengikuti pemilu dan mendukung perang. Partai itu menyebut memiliki sejumlah veteran sebagai anggota. A Just Russia, partai sosial demokrat yang telah berada dalam politik Rusia selama sekitar dua dekade, bersaing dengan Partai Komunis untuk menarik pemilih berusia lebih tua dan kelompok yang memiliki nostalgia terhadap masa Soviet. Partai tersebut juga mendukung perang di Ukraina.
New People merupakan partai yang dibentuk menjelang pemilu parlemen 2021 dengan upaya menempatkan diri sebagai suara liberal bagi pemilih muda dan kelompok teknokrat. Pada pemilu sebelumnya, partai itu memperoleh sedikit lebih dari 5 persen suara sehingga dapat membentuk faksi kecil di Duma.
Bratersky menggambarkan New People sebagai 'partai yang condong liberal, didukung beberapa orang Kremlin yang lebih teknokratis dan lebih pro-perdamaian'.
Menurut Bratersky, partai tersebut menarik pemilih kelas menengah dan setelah Yabloko dikeluarkan dari daftar partai, New People dipandang sebagian kalangan sebagai penggantinya. Ia mengatakan apabila New People memperoleh posisi ketiga dengan jumlah suara yang kuat, hal itu dapat dibaca sebagai tanda bahwa sebagian pemilih anti-perang menggunakan partai tersebut sebagai saluran politik yang masih legal. Partai lain yang mencari kursi antara lain Communists of Russia, Party of Pensioners, Green Party, Party of Direct Democracy, dan Motherland Party.
Yabloko Dicoret dari Daftar Partai
Yabloko, yang disebut sebagai satu-satunya partai politik terdaftar yang menentang perang, pada awalnya masuk dalam daftar peserta. Namun, Mahkamah Agung pada Agustus memerintahkan pencoretannya dari daftar partai. Salah satu alasan yang disebut dalam putusan adalah bahwa sikap anti-perang partai tersebut dinilai serupa dengan upaya mencari pelanggaran terhadap integritas teritorial Rusia. Yabloko kini hanya mengikuti pemilihan melalui sejumlah distrik satu mandat. Al Jazeera
Pemilu Pertama Sejak Invasi Skala Penuh ke Ukraina
Bratersky menilai konteks perang membuat pemilu kali ini berbeda karena menjadi pemilu parlemen pertama sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina. Pada kongres United Russia pada Agustus, Putin mengaitkan tugas partai dengan dukungan terhadap perang dan mengatakan kewajibannya adalah 'melakukan segala sesuatu untuk kemenangan' di Ukraina. Al Jazeera
Bratersky mengatakan, 'Ini menunjukkan bahwa Kremlin sedikit khawatir karena pemilu adalah satu-satunya cara legal untuk menunjukkan ketidaksukaan terhadap Kremlin.' Ia juga menyatakan bahwa bahkan sebagian pendukung inti Putin tidak menyukai United Russia karena menganggapnya sebagai kekuatan yang korup.
Hasil Pemilu Rusia Sebelumnya Berulang Kali Diperdebatkan
Sejak Putin pertama kali berkuasa pada 2000, United Russia memenangi setiap pemilu Duma, biasanya dengan selisih besar. Hasil sejumlah pemilu sebelumnya diperdebatkan. Pada 2011, tuduhan kecurangan pemilu memicu demonstrasi jalanan terbesar selama masa kekuasaan Putin hingga saat itu. Setelah pemilu 2021, pemantau independen dan ahli statistik menyatakan dukungan riil terhadap United Russia lebih rendah dibandingkan hasil resmi. Al Jazeera
Pemerintah Rusia menolak tuduhan adanya kecurangan yang meluas. Dalam beberapa tahun terakhir, partai oposisi dan pengkritik perang juga semakin banyak yang tidak dapat mengikuti pemilu. Dengan latar belakang tersebut, pemungutan suara 2026 menjadi momen untuk melihat komposisi baru State Duma serta distribusi suara di antara partai-partai yang tetap berada dalam kontestasi.

















