Headline.co.id, Pekanbaru ~ Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Riau mengerahkan operasi water bombing untuk menangani lima titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) dan Indragiri Hilir (Inhil), Selasa (15/9/2026). Langkah ini dilakukan setelah titik panas kembali terpantau pada Selasa pagi, meski sebelumnya kondisi karhutla di Riau dinyatakan terkendali. Penanganan dilakukan melalui dukungan udara karena sejumlah lokasi menghadapi kendala akses dan keterbatasan sumber air.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau Edy Afrizal mengatakan lima titik panas tersebut terdiri atas tiga titik di Inhu dan dua titik di Inhil. Satgas Karhutla Riau mengerahkan empat helikopter untuk operasi water bombing dan enam helikopter lainnya untuk patroli.
Satgas Karhutla Riau Kerahkan Water Bombing
Edy menyampaikan, penanganan udara dilakukan di lokasi yang membutuhkan dukungan pemadaman. Menurut dia, akses menuju sejumlah titik dan ketersediaan sumber air menjadi tantangan dalam penanganan karhutla.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Di Riau alhamdulillah terkendali, firespot dengan level confidence high kita nihil,” ujar Edy di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.
Namun, pada Selasa pagi kembali terpantau lima titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Temuan itu mendorong Satgas Karhutla segera melakukan penanganan di dua kabupaten tersebut.
Perkembangan penanganan karhutla juga dibahas dalam rapat koordinasi pemerintah yang digelar secara virtual. Rapat tersebut membahas langkah mitigasi dan penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.
Pemerintah juga merencanakan pembentukan tim publikasi untuk menyampaikan perkembangan penanganan karhutla secara berkala kepada masyarakat.
OMC Disiagakan untuk Jaga Kelembapan Gambut
Selain pemadaman langsung melalui water bombing, Satgas Karhutla Riau tetap menyiagakan operasi modifikasi cuaca (OMC). Operasi ini diarahkan untuk membantu menjaga kelembapan lahan gambut sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
Edy mengatakan, berdasarkan koordinasi BPBD dengan BMKG Riau, potensi pertumbuhan awan dalam beberapa hari terpantau terbatas. Meski demikian, terdapat peluang pertumbuhan awan sekitar 16 dan 19 September 2026.
Tim OMC akan melakukan penyemaian apabila kondisi awan memungkinkan. Upaya tersebut dilakukan dengan memanfaatkan setiap peluang untuk membasahi lahan gambut.
“Begitu ada yang bisa segera disemai, tidak menyia-nyiakan potensi sekecil apa pun yang bisa membasahi lahan gambut supaya tidak terbakar,” tegas Edy.
Asap di Riau Diduga Berasal dari Wilayah Selatan
Di tengah penanganan titik panas, kondisi asap yang terpantau di Riau masih menjadi perhatian. Edy mengatakan, berdasarkan informasi arah angin dan kondisi titik panas di wilayah sekitar, asap tersebut diduga berasal dari wilayah lain di sebelah selatan Riau.
Menurut dia, dugaan itu didasarkan pada kondisi titik panas di Riau yang sebelumnya nihil serta arah angin yang bergerak dari selatan ke utara berdasarkan informasi BMKG.
“Karena Riau beberapa hari ini dengan firespot nihil, asap kemungkinan besar dari tetangga, karena menurut BMKG, angin berhembus dari selatan ke utara,” jelas Edy.
Pernyataan mengenai sumber asap tersebut masih berupa dugaan berdasarkan arah angin dan kondisi pemantauan saat itu. Penentuan sumber asap memerlukan analisis meteorologi dan pemantauan kebakaran yang lebih lengkap.
Patroli Udara Tetap Dilakukan
Selain mengerahkan empat helikopter untuk water bombing, Satgas Karhutla Riau menugaskan enam helikopter untuk melakukan patroli. Dukungan patroli udara digunakan sebagai bagian dari pemantauan kondisi karhutla di wilayah Riau.
Penanganan dilakukan melalui kombinasi pemadaman langsung, patroli, serta kesiapsiagaan OMC. Langkah tersebut ditempuh untuk merespons titik panas yang kembali muncul sekaligus menjaga kelembapan lahan gambut ketika kondisi awan memungkinkan.



















