Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Sebaran abu vulkanik di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, dapat meningkatkan risiko keselamatan bagi pengendara sepeda motor karena tidak hanya mengganggu pandangan, tetapi juga menurunkan daya cengkeram ban terhadap permukaan jalan. Praktisi keselamatan berkendara Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, pada Senin (7/9/2026) mengingatkan lapisan abu dapat membuat kendaraan lebih mudah selip, terutama saat pengereman atau menikung. Pengendara roda dua perlu meningkatkan kewaspadaan karena bidang kontak ban sepeda motor dengan jalan lebih terbatas dibandingkan mobil. Jika abu sudah cukup tebal, pilihan paling aman adalah menghentikan perjalanan dan menunggu kondisi membaik.
Jusri menjelaskan, abu vulkanik yang menutup jalan dapat memiliki karakter seperti pasir halus. Kondisi tersebut menyebabkan traksi ban terhadap aspal berkurang dan meningkatkan risiko kendaraan tergelincir.
“Abu vulkanik yang menutup permukaan jalan dapat bertindak seperti lapisan pasir halus, sehingga grip ban turun drastis dan kendaraan lebih mudah mengalami selip, terutama ketika melakukan pengereman atau menikung,” jelas Jusri, dikutip dari Antara, Senin (7/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Lapisan abu vulkanik pada permukaan jalan menjadi salah satu ancaman utama bagi pengendara karena dapat menurunkan kemampuan ban mencengkeram aspal.
Menurut Jusri, berkurangnya traksi membuat kendaraan lebih mudah tergelincir. Risiko tersebut semakin besar ketika pengendara harus melakukan pengereman atau melewati tikungan.
Kondisi jalan yang berubah akibat abu membuat pengendara perlu menyesuaikan cara berkendara dan tidak memperlakukan permukaan jalan seperti dalam kondisi normal.
Pengendara Motor Perlu Lebih Waspada
Pengguna sepeda motor perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi tersebut. Ban sepeda motor memiliki bidang kontak dengan permukaan jalan yang lebih terbatas dibandingkan kendaraan roda empat.
Karena itu, penurunan daya cengkeram akibat abu vulkanik dapat menjadi risiko serius bagi pengendara roda dua. Kehilangan traksi dapat menyebabkan motor lebih mudah selip ketika terjadi perubahan kecepatan atau arah secara mendadak.
Pengendara perlu mengurangi tindakan yang dapat memicu hilangnya keseimbangan, terutama ketika permukaan jalan terlihat telah tertutup abu.
Abu Vulkanik Juga Mengganggu Mata dan Pernapasan
Bahaya abu vulkanik tidak terbatas pada kondisi jalan. Jusri juga mengingatkan adanya risiko terhadap mata dan sistem pernapasan pengendara.
Abu yang masuk ke dalam helm dapat mengganggu penglihatan. Partikel abu juga berpotensi terhirup dan mengganggu saluran pernapasan.
Gangguan tersebut dapat semakin menyulitkan pengendara mempertahankan fokus ketika berkendara dalam kondisi jalan yang daya cengkeramnya telah berkurang.
Berhenti Jadi Pilihan saat Abu Semakin Tebal
Jusri menyarankan pengendara tidak melanjutkan perjalanan apabila lapisan abu sudah cukup tebal hingga mengubah warna atau tekstur permukaan jalan.
Dalam kondisi tersebut, pengendara sebaiknya mencari lokasi aman dan menunggu hingga situasi membaik daripada memaksakan perjalanan.
“Dalam kondisi abu vulkanik sedang tebal, keputusan Road Safety yang paling defensif bukan ‘bagaimana tetap berkendara’ tetapi ‘kapan harus berhenti dan tidak melanjutkan perjalanan’,” tegas Jusri.
Pertimbangan untuk berhenti menjadi bagian penting dalam keselamatan berkendara karena kondisi jalan dan jarak pandang dapat semakin memburuk ketika sebaran abu meningkat.
Terapkan Slow, Smooth, Straight Jika Harus Berkendara
Apabila perjalanan tidak dapat ditunda, Jusri meminta pengendara menerapkan prinsip slow, smooth, straight.
Kecepatan kendaraan harus dikurangi untuk memberikan ruang lebih besar dalam mengantisipasi perubahan kondisi jalan. Pengendara juga perlu menghindari pengereman dan akselerasi secara mendadak.
Saat melewati tikungan, pengendara disarankan tidak mengambil sudut kemiringan yang besar. Pengendalian kendaraan perlu dilakukan secara halus untuk mengurangi risiko ban kehilangan daya cengkeram pada permukaan jalan yang tertutup abu vulkanik.
Langkah paling defensif tetap mempertimbangkan kondisi jalan sebelum melanjutkan perjalanan. Ketika abu telah cukup tebal dan risiko meningkat, berhenti di lokasi aman menjadi pilihan yang disarankan hingga kondisi memungkinkan untuk kembali berkendara.


















