Headline.co.id, Jakarta ~ Aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalami peningkatan signifikan setelah erupsi pada 31 Agustus 2026. Dengan status Level III (Siaga), Polri bersama Pemerintah Kabupaten Karo, TNI, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperkuat kesiapsiagaan untuk melindungi masyarakat. Polri memfokuskan upaya pada pengamanan wilayah rawan, pelayanan publik, dukungan kesehatan, kesiapan evakuasi, serta pemenuhan kebutuhan warga terdampak.
Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko dari Divhumas Polri menegaskan pentingnya keselamatan masyarakat. “Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan mengikuti arahan personel Polri serta tim gabungan di lapangan. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” ujarnya di Jakarta pada Selasa, 1 September 2026. Berdasarkan pemantauan pada hari yang sama, Gunung Sinabung mengeluarkan asap kawah berwarna putih hingga kelabu setinggi 50–600 meter, dengan abu vulkanik bergerak ke arah timur–tenggara.
Untuk memastikan keamanan, Polda Sumatera Utara menyiagakan 176 personel yang terdiri dari 92 personel Brimob, 80 personel Samapta, dan 4 personel tim kesehatan. Mereka ditempatkan di titik-titik strategis untuk mengamankan wilayah rawan, membantu pengaturan mobilitas masyarakat, mendukung proses evakuasi, dan memberikan pelayanan kesehatan. Selain itu, sekitar 550 personel gabungan, termasuk 500 personel TNI dan 50 personel dari Pemerintah Kabupaten Karo, turut serta dalam penanganan ini.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dengan peningkatan status Gunung Sinabung, radius aman ditetapkan hingga 6 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Desa Payung dan Desa Kuta Tengah menjadi perhatian khusus karena berpotensi terdampak awan panas. Kawasan Lau Kawar dan kebun anggur ditutup sementara untuk mencegah paparan bahaya. Polri, TNI, pemerintah daerah, dan BPBD terus melakukan pemantauan dan sterilisasi di wilayah berpotensi bahaya, serta mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati kawasan tersebut.
Langkah-langkah mitigasi juga dilakukan untuk mengurangi dampak erupsi, termasuk penyiraman wilayah terdampak abu vulkanik, pembagian 15.000 masker, peliburan sekolah selama dua hari di wilayah terdampak, penyiapan pelayanan kesehatan, penyediaan dapur lapangan, penyaluran logistik, serta penguatan posko terpadu. Posko Terpadu Penanggulangan Bencana ditempatkan di Kantor Koramil 04/Simpang Empat sebagai pusat koordinasi pemantauan situasi dan pelayanan masyarakat.



















