Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Langit Singapura kembali dibayangi kabut asap setelah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla Indonesia menghasilkan gumpalan asap dari Sumatera dan Kalimantan yang terbawa angin ke negara tersebut. Pada Sabtu, 5 September 2026, kualitas udara di wilayah barat, tengah, dan timur Singapura sempat masuk kategori tidak sehat, dengan PSI 24 jam mencapai angka di atas 100. Kondisi ini menarik perhatian karena menjadi kali pertama Indeks Standar Polutan Singapura melampaui kategori tersebut sejak 8 Oktober 2023.
NEA Singapura mulai mengeluarkan peringatan kabut asap harian sejak Jumat setelah PSI 24 jam memasuki kisaran tidak sehat. Peringatan itu memuat prakiraan kualitas udara untuk membantu masyarakat menentukan kegiatan selama 24 jam berikutnya, terutama ketika arah angin berpotensi terus membawa asap dari wilayah Indonesia.
Singapura Kembali Catat PSI di Atas 100
Pada pukul 19.00 waktu setempat, PSI 24 jam di wilayah tengah Singapura berada pada angka 103. Nilai itu termasuk dalam kategori tidak sehat karena berada pada rentang 101 hingga 200.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pada pukul 06.00, kondisi serupa lebih dahulu terjadi di wilayah barat dan timur. PSI di wilayah barat tercatat 103, sedangkan wilayah timur 102. Menjelang malam, angka tersebut menurun menjadi 91 di wilayah barat dan 83 di wilayah timur.
Wilayah utara dan selatan tetap berada pada kategori sedang dengan PSI masing-masing 78 dan 79. Meski beberapa kawasan mengalami perbaikan, NEA memperkirakan kualitas udara Singapura masih dapat berada pada ujung atas kategori sedang hingga ujung bawah kategori tidak sehat apabila aliran asap kembali meningkat.
PSI 24 jam menjadi indikator utama kualitas udara harian di Singapura. Indeks ini menggabungkan pengukuran enam polutan, yaitu PM2,5, PM10, ozon, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, serta karbon monoksida.
Mengapa Asap Karhutla Bisa Menyeberang ke Singapura
Kondisi cuaca dan arah angin menjadi faktor penting dalam pergerakan asap. Pada Sabtu, sebagian besar kawasan sekitar dilaporkan masih kering. Gumpalan asap dalam intensitas sedang hingga pekat terlihat di selatan dan tengah Sumatera serta sejumlah wilayah Kalimantan.
Asap dari kawasan tersebut kemudian bergerak mengikuti angin menuju Singapura. NEA memperkirakan angin dominan dalam beberapa hari berikutnya bertiup dari arah tenggara atau selatan, sementara cuaca kering masih berpotensi bertahan di Singapura dan kawasan sekitarnya.
Kondisi tersebut menyebabkan dampak karhutla Indonesia tidak berhenti di wilayah sumber kebakaran. Malaysia, Singapura, dan Filipina termasuk negara yang mengalami penurunan kualitas udara akibat kabut asap di kawasan Asia Tenggara.
Kebakaran Indonesia Lepaskan Lebih dari 23 Juta Ton Emisi Karbon
Skala kebakaran Indonesia terlihat dari data emisi yang dihimpun CAMS. Fire Emission Watch mencatat lebih dari 23 juta metrik ton emisi karbon dilepaskan akibat kebakaran pada periode 28 Agustus hingga 3 September.
Jumlah tersebut melampaui catatan pada periode yang sama tahun 2015 sebesar 20,7 juta metrik ton. Mark Parrington, ilmuwan senior CAMS, menjelaskan peningkatan emisi mulai terjadi sejak akhir Juli dan telah mencapai tingkat yang sebanding dengan tahun-tahun El Nino kuat.
“Kami melihat emisi kebakaran yang sangat ekstrem sebanding dengan tahun-tahun El Nino kuat sebelumnya, termasuk cakupan asap, kabut asap, dan dampaknya terhadap kualitas udara,” kata Parrington.
Estimasi Nusantara Atlas menyebut area terbakar di Indonesia telah mendekati 300.000 hektar. Sebagian besar kebakaran terkonsentrasi di Kalimantan dan Sumatera, dua wilayah yang juga menjadi sumber utama kabut asap dalam bahan yang tersedia.
Gambut Membuat Api Lebih Sulit Ditangani
Kebakaran di kawasan gambut menjadi tantangan tersendiri. Lahan gambut merupakan ekosistem lahan basah dengan kandungan bahan organik yang besar. Ketika kehilangan kelembapan, material tersebut mudah terbakar dan dapat memperbesar kebakaran.
Pantau Gambut mendeteksi lebih dari 210.000 titik panas di kawasan lahan gambut Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus. Juru bicara Pantau Gambut, Wahyu Perdana, menekankan bahaya pengeringan gambut.
“Gambut adalah ekosistem yang secara alami basah dan menyimpan bahan organik dalam jumlah besar. Ketika lahan gambut dikeringkan, bahan organik ini berubah menjadi bahan bakar,” ungkap Wahyu.
Fenomena El Nino turut memperbesar risiko karena menghasilkan kondisi yang lebih kering. Namun, Pendiri Nusantara Atlas David Gaveau mengingatkan bahwa El Nino bukan sumber api.
“El Nino tidak menyulut api. Fenomena ini menciptakan kondisi kering yang memungkinkan api akibat ulah manusia meluas dan menjadi sangat besar,” ujar Gaveau.
Kabut Asap Juga Mengganggu Kesehatan dan Pendidikan
Dampak karhutla tidak hanya terlihat dari perubahan warna langit dan angka indeks kualitas udara. Di Indonesia, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyatakan lebih dari lima juta orang di Kalimantan dan Sumatera terpapar langsung risiko kesehatan akibat kabut asap.
Selain itu, lebih dari 1,4 juta siswa harus menjalani pembelajaran jarak jauh menyusul penutupan sekolah. Di Malaysia, peningkatan polusi udara mendorong penetapan status darurat di Sarawak dan hampir 650 sekolah dijadwalkan tutup pada pekan berikutnya.
Filipina juga sempat mengalami kualitas udara dari tingkat sangat tidak sehat hingga sangat berbahaya untuk partikel PM2,5 sehingga sekolah ditutup di berbagai kota dan provinsi sebelum kondisi perlahan kembali normal.
Di Singapura, perhatian kini tertuju pada perkembangan PSI dan PM2,5. Pembacaan PM2,5 per jam digunakan untuk menggambarkan kualitas udara pada satu titik waktu, sedangkan PSI 24 jam merepresentasikan kondisi rata-rata selama 24 jam terakhir. Selama kebakaran di Indonesia berlanjut dan arah angin membawa gumpalan asap ke utara, risiko kabut asap lintas batas masih menjadi perhatian bagi Singapura.




















