Highlight Berita:
Headline.co.id, Lampung Selatan ~ Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi yang masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pagi setelah aktivitas erupsi menerus terpantau sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Berdasarkan informasi Badan Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau, salah satu erupsi tercatat pada pukul 05.46 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut. Aktivitas gunung api di Lampung Selatan tersebut berlangsung ketika Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga, sehingga masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Kolom abu saat erupsi pukul 05.46 WIB teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal serta bergerak condong ke arah barat dan barat laut. Erupsi itu terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan berlangsung sekitar 27 detik.
Peristiwa krakatau meletus ini juga menjadi perhatian setelah sejumlah masyarakat di Jawa Barat, Banten, dan Lampung melaporkan dentuman serta getaran sejak malam. Badan Geologi menduga fenomena tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Erupsi Anak Krakatau Berlangsung sejak Jumat Malam
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami erupsi sejak Jumat malam pukul 23.07 WIB. Menurut dia, aktivitas yang terjadi merupakan erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.
“Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026. Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB,” kata Lana dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).
Dalam keterangan berikutnya, Lana menjelaskan erupsi berlangsung terus-menerus dan disertai suara gemuruh yang masih dapat terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau Pasauran hingga Sabtu dini hari.
“Gunung api Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 WIB masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK,” ujarnya.
Laporan pengamatan yang disusun untuk periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB juga menyebut erupsi berlangsung secara terus-menerus sejak Jumat pukul 23.07 WIB hingga laporan dibuat. Aktivitas tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur.
Dentuman dan Getaran Diduga Berkaitan dengan Erupsi
Aktivitas Gunung Anak Krakatau turut dikaitkan dengan laporan dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Badan Geologi menyatakan fenomena tersebut diduga berhubungan dengan erupsi yang terjadi dalam waktu bersamaan.
“Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan,” kata Lana.
Pada periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas vulkanik juga dilaporkan disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari Pos GAK Pasauran. Dalam periode tersebut tercatat satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 70 milimeter dan lama gempa 21.600 detik.
Kondisi cuaca selama pengamatan dilaporkan berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang menuju barat laut, sedangkan suhu udara berada pada kisaran 26,5 hingga 27,1 derajat Celsius dengan kelembapan 75 hingga 78 persen.
Pengamat gunung api Rioboniek Situmorang dalam laporannya menyampaikan kondisi visual gunung dapat terlihat jelas hingga tertutup kabut.
“Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati,” tulis Rioboniek dalam laporan tersebut.
Badan Geologi Sebut Tidak Berpotensi Memicu Tsunami
Di tengah peningkatan perhatian terhadap aktivitas Gunung Krakatau, Badan Geologi juga memberikan penjelasan mengenai potensi bahaya yang berkaitan dengan perubahan tubuh Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, Badan Geologi menyatakan pertumbuhan tubuh gunung yang kembali terbentuk setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.
Lana mengatakan kondisi tersebut dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau tetap dipantau secara intensif.
“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif,” kata Lana.
Badan Geologi juga menjelaskan erupsi yang terlihat menghasilkan semburan merah menyala menyerupai lava fountain. Fenomena tersebut menghasilkan aliran lava dan disebut dapat berlangsung dalam durasi beberapa jam.
“Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai ‘lava fountain’ atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi,” jelas Lana.
Radius 3 Kilometer dari Kawah Aktif Harus Dikosongkan
Gunung Anak Krakatau hingga kini tetap berada pada Status Level III atau Siaga. PVMBG merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau serta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Rekomendasi tersebut dikeluarkan untuk mengantisipasi potensi bahaya dari aktivitas erupsi gunung api. Badan Geologi meminta masyarakat mengikuti informasi resmi dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Khusus masyarakat yang berada di kawasan pantai Provinsi Banten dan Lampung, Badan Geologi meminta warga tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa dengan memperhatikan arahan pemerintah daerah melalui BPBD.
“Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat,” kata Lana.
Gunung Anak Krakatau berada di wilayah Lampung Selatan, Lampung, pada sekitar 6,102 derajat lintang selatan dan 105,423 derajat bujur timur. Gunung dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut itu terus dipantau menyusul rangkaian erupsi yang berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi.



















