Headline.co.id, Sleman ~ Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi deteksi dini penyakit pada tanaman cabai untuk membantu petani mengatasi masalah gagal panen akibat virus. Virus kuning atau Pepper Yellow Leaf Curl Indonesian Virus (PYLCIV) sering menyerang tanaman cabai dan menyebabkan daun menguning, yang biasanya terdeteksi terlambat saat mendekati masa panen. Inovasi ini dikembangkan oleh Tim SPECTRA yang terdiri dari lima mahasiswa UGM dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE).
Tim SPECTRA dipimpin oleh Hasan Rabbani dari jurusan Fisika, dengan anggota Nur Johan Pratama dan Priamitra Aditiya Satriamukti dari Proteksi Tanaman, serta Saktian Hutama dan Zaskia Fakhira Priatna dari Biologi. Mereka dibimbing oleh Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., dekan FMIPA UGM. Penelitian ini dimulai dengan menanam 30 tanaman cabai di Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, yang dipilih karena kondisi geografisnya yang mendukung pertumbuhan tanaman.
Dalam penelitian ini, setengah dari tanaman cabai dipelihara dengan baik, sementara sisanya digunakan sebagai sampel untuk diuji dalam tiga tahap utama. Tahap pertama adalah pemeliharaan kutu kebul yang membawa virus kuning, diikuti dengan penularan virus tersebut ke tanaman sehat. Tahap akhir melibatkan analisis menggunakan sensor multispektral dan machine learning. Hasil sementara menunjukkan bahwa kutu kebul dapat menularkan virus kuning ke tanaman cabai sehat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sensor multispektral yang digunakan dalam penelitian ini bekerja dengan cara menjepit daun cabai selama lima detik untuk mendapatkan grafik pembacaan. Cahaya yang dipantulkan oleh daun digunakan untuk membedakan kondisi tanaman, apakah sehat atau terinfeksi virus kuning. Model yang dikembangkan mampu mencapai tingkat akurasi hampir 80% dalam membedakan kedua kondisi tersebut. Hasan Rabbani menyatakan bahwa inovasi ini penting karena metode deteksi penyakit cabai yang ada saat ini masih sederhana dan mahal. Dengan penelitian ini, diharapkan sensor multispektral dapat menjadi solusi yang efisien dan terjangkau bagi petani.



















