Headline.co.id, Jakarta ~ Pemilik jaringan pusat perbelanjaan terkemuka di Indonesia, Lippo Group dan Pakuwon Group, menegaskan bahwa kondisi keamanan nasional tetap kondusif. Mereka menyatakan bahwa pemasangan pagar di beberapa pusat perbelanjaan adalah inisiatif lokal dan bukan kebijakan perusahaan. James T. Riady, Chairman Lippo Group dan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia, menyebutkan bahwa pagar pernah dipasang di mal-mal milik Lippo saat terjadi kerusuhan di masa lalu, namun telah dibongkar seiring membaiknya situasi keamanan.
James Riady menegaskan, “Pemasangan pagar di masa lalu dilakukan untuk merespons situasi yang tidak kondusif, namun saat ini tidak diperlukan lagi.” Senada dengan itu, Alexander Tedja, pendiri Pakuwon Group, menyatakan bahwa pagar di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, akan segera dibongkar. Ia menekankan bahwa keputusan pemasangan pagar tersebut diambil oleh manajemen setempat tanpa arahan dari pemegang saham atau kantor pusat.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, telah berkomunikasi dengan Alexander Tedja mengenai pemasangan pagar di mal tersebut. Alexander memastikan bahwa pagar akan dibongkar dan penataan kawasan akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku untuk menghindari persepsi negatif di masyarakat. Maruarar mengapresiasi keterbukaan James Riady dan Alexander Tedja dalam menyampaikan bahwa kondisi keamanan di Indonesia tetap baik.
James Riady menilai bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi sosial dan ekonomi nasional. Ia menyebutkan bahwa pemerintah berhasil menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan strategis, seperti mempertahankan harga BBM bersubsidi, LPG 3 kilogram, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi di tengah gejolak harga energi global. “Optimisme ini tercermin dari perkembangan industri pusat perbelanjaan yang terus menunjukkan tren positif,” ujarnya.
James menambahkan bahwa permintaan ruang usaha dari tenant bahkan melampaui ketersediaan ruang di banyak pusat perbelanjaan. “Prospek yang positif ini mendorong Lippo Group untuk terus melakukan ekspansi,” katanya. Saat ini, Lippo Group mengelola 106 pusat perbelanjaan yang terdiri dari 71 mal dan 35 shopping center di lebih dari 29 kota di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa tingginya permintaan ruang usaha dan ekspansi pengembang menjadi indikator kuat bahwa dunia usaha tetap percaya terhadap prospek ekonomi nasional. “Pemasangan pagar di beberapa lokasi merupakan kasus terisolasi dan tidak mencerminkan kondisi industri pusat perbelanjaan secara keseluruhan,” tegasnya. Alexander Tedja juga menambahkan bahwa isu pagar mal sempat ramai diperbincangkan di media sosial, namun kondisi keamanan saat ini tetap kondusif sehingga tidak ada kebutuhan untuk memasang pagar pembatas di pusat perbelanjaan.
















