Headline.co.id, Jakarta ~ Pengamat Sosial dan mantan Dosen Sosiologi Universitas Nasional (Unas), Hasto Atmojo Suroyo, menekankan pentingnya membangun ketenangan masyarakat dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan kehidupan bertetangga. Menurut Hasto, sikap tenang dan kemampuan menyaring informasi harus ditanamkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh isu yang belum jelas kebenarannya.
Hasto, yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) periode 2019–2024, menyatakan bahwa ketenangan individu akan lebih efektif jika ditularkan secara berjenjang ke lingkungan yang lebih luas. “Ketenangan ini harus dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar,” ujar Hasto kepada , Sabtu (1/8/2026).
Dalam situasi di mana informasi beredar dengan cepat, Hasto menekankan pentingnya sumber informasi yang kredibel sebagai pegangan masyarakat. Ia menilai media massa arus utama masih menjadi rujukan karena informasi yang disajikan telah melalui proses verifikasi. “Media massa arus utama tetap menjadi rujukan penting,” kata dia.
Hasto juga mengakui bahwa kepercayaan masyarakat terhadap informasi dipengaruhi oleh konsistensi komunikasi pemerintah. Perbedaan pernyataan dari para pejabat, menurutnya, dapat menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa memberikan rasa aman adalah kewajiban dasar aparat keamanan dan penegak hukum. “Komunikasi publik yang menenangkan perlu diperkuat,” ujar dia.
Ia mengingatkan agar pejabat publik menghindari pernyataan yang dapat memicu keresahan. “Pernyataan yang menenangkan harus diutamakan,” kata dia. Selain itu, Hasto menilai jaringan aparat keamanan hingga tingkat desa dapat dimanfaatkan untuk memberikan sosialisasi mengenai informasi yang belum jelas kebenarannya. “Sosialisasi di tingkat desa sangat penting,” ujar dia.
Hasto juga menyoroti fenomena pusat perbelanjaan yang memperkuat sistem pengamanan, seperti meninggikan pagar, sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat terhadap peristiwa sosial yang pernah terjadi. “Memori kolektif ini memengaruhi respons masyarakat,” kata dia. Ia menambahkan bahwa kecenderungan masyarakat mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman juga merupakan gejala serupa. “Ini adalah respons terhadap situasi yang ada,” pungkas dia.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meminta masyarakat untuk tidak khawatir berlebihan terhadap keamanan dan ketertiban di Jakarta. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama jajaran TNI, Polri, serta aparat penegak hukum siap berkoordinasi untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Jakarta. Pramono menduga pemasangan pagar tinggi oleh pengelola gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan dilakukan karena kekhawatiran, namun ia mengingatkan bahwa kekhawatiran berlebihan tidak baik. “Kekhawatiran berlebihan harus dihindari,” katanya di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Pramono meyakini keamanan Jakarta akan tetap kondusif. Pengalaman dari peristiwa kerusuhan tahun lalu akan digunakan untuk meningkatkan sinergi pengamanan. “Keamanan Jakarta akan tetap terjaga,” ujar dia. Pramono memastikan bahwa keamanan Jakarta akan terjaga agar masyarakat dapat menikmati ibu kota dengan aman dan nyaman. “Jakarta akan tetap aman dan nyaman,” pungkas Pramono.
Polda Metro Jaya telah membentuk tim preventive strike (serangan pencegahan) dan meningkatkan intensitas patroli sebagai langkah mitigasi untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah DKI Jakarta dan daerah penyangga tetap kondusif menjelang Agustus. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Budi Hermanto, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima surat pemberitahuan terkait rencana aksi. Meski demikian, kepolisian tetap melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan informasi di ruang digital. “Pemantauan terus dilakukan,” kata Budi di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Selain membentuk tim khusus, Polda Metro Jaya juga meningkatkan skala patroli mulai dari skala kecil, sedang, hingga besar. Patroli difokuskan di sejumlah titik strategis, terutama wilayah perbatasan dan daerah penyangga, seperti Bekasi dan Depok yang berbatasan dengan Jawa Barat, serta Tangerang yang berbatasan dengan Banten. Budi menegaskan bahwa kondisi kamtibmas di wilayah hukum Polda Metro Jaya hingga kini tetap aman dan terkendali. “Kondisi kamtibmas tetap aman,” kata Budi.

















