Headline.co.id, Pangkalan Bun ~ Industri kelapa sawit terus menjadi salah satu pilar utama ekonomi Indonesia. Selain berperan sebagai penyumbang devisa terbesar dari sektor perkebunan, kelapa sawit juga berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja, mendukung ketahanan energi nasional, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Zaid Burhan Ibrahim, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), menyatakan bahwa kelapa sawit memiliki produktivitas lahan tertinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Dengan produktivitas mencapai sekitar 4 ton minyak per hektare, sawit dianggap sebagai komoditas paling efisien untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia yang terus meningkat.
“Produktivitas sawit yang tinggi menjadikannya komoditas unggulan dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati global,” ujar Zaid dalam paparan pada kegiatan Kunjungan Kerja Pers BPDP 2026 di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Zaid menambahkan bahwa kontribusi besar industri sawit tidak terlepas dari peran pekebun rakyat. Saat ini, perkebunan rakyat menguasai sekitar 41 persen dari total luas areal sawit nasional, hampir menyamai perkebunan besar swasta yang menguasai 55 persen. Dari sisi produksi, kebun rakyat telah menghasilkan sekitar 16,64 juta ton atau sekitar 36 persen produksi sawit nasional pada 2025.
“Peran pekebun rakyat sangat signifikan dalam industri sawit nasional,” jelasnya.
Zaid juga mengungkapkan bahwa sawit tetap menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia dengan nilai ekspor lebih dari USD20 miliar setiap tahun. Menariknya, lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia kini berupa produk hilir, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
“Ekspor produk hilir sawit memberikan nilai tambah yang signifikan bagi ekonomi kita,” katanya.
Produk hilir sawit saat ini telah dimanfaatkan secara luas, mulai dari minyak goreng, margarin, vitamin, kosmetik, sabun, deterjen, hingga biofuel seperti biodiesel. Bahkan limbah sawit juga telah dimanfaatkan menjadi biomassa, pakan ternak, dan bioetanol yang memberikan nilai ekonomi tambahan. Selain kontribusi terhadap ekspor, industri sawit juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. BPDP mencatat sekitar 16,5 juta orang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor ini, terdiri dari sekitar 9,7 juta tenaga kerja langsung dan 7,8 juta tenaga kerja tidak langsung yang tersebar di berbagai sektor pendukung.
“Industri sawit adalah salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia,” ujar Zaid.
Dalam mendukung target transisi energi nasional, BPDP juga terus mendukung implementasi program biodiesel. Zaid menjelaskan bahwa penerapan mandatori B40 pada 2025 diproyeksikan mampu menghemat devisa hingga Rp147,5 triliun, mengurangi emisi karbon lebih dari 41 juta ton CO₂ ekuivalen, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.
“Penerapan mandatori B40 akan memberikan dampak positif bagi ekonomi dan lingkungan,” katanya.
Meski demikian, Zaid mengakui industri sawit masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari produktivitas kebun rakyat yang belum optimal, persoalan legalitas lahan, kampanye negatif di pasar global, hingga hambatan perdagangan internasional. Oleh karena itu, BPDP terus memperkuat berbagai program strategis seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, riset, promosi, serta dukungan terhadap program biodiesel. Sepanjang periode 2015–2025, BPDP telah menyalurkan dana untuk berbagai program strategis, di antaranya peremajaan sawit rakyat seluas 408.146 hektare yang melibatkan lebih dari 182 ribu pekebun, pemberian beasiswa kepada 13.265 mahasiswa, pelatihan bagi 29.173 pekebun, serta pendanaan ratusan riset untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sektor perkebunan.
“Kami terus berkomitmen untuk memperkuat program strategis demi keberlanjutan industri sawit,” tutup Zaid.
















