Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan pentingnya permainan tradisional dan aktivitas fisik sebagai strategi untuk melindungi anak dari dampak negatif dunia digital. Di tengah maraknya penggunaan gawai dan media sosial, anak-anak diharapkan lebih banyak mendapatkan pengalaman nyata daripada menghabiskan waktu di depan layar. Pernyataan ini disampaikan Meutya dalam acara Festival Generasi Berani Exploring yang diadakan bersamaan dengan peringatan Hari Anak Nasional di Cibis Park, Jakarta, pada Sabtu (25/7/2026).
Acara tersebut merupakan bagian dari kampanye pemerintah untuk mempromosikan pola pengasuhan yang lebih sehat di era digital dan memperkuat karakter anak melalui budaya lokal. “Permainan tradisional adalah salah satu cara untuk melindungi anak dari dampak negatif ruang digital,” ujar Meutya. Ia menggambarkan ruang digital sebagai kolam renang yang penuh tantangan, di mana anak-anak tidak boleh dibiarkan masuk tanpa pemahaman risiko dan pendampingan orang tua. “Anak-anak harus dipersiapkan dan didampingi saat memasuki ruang digital,” kata Menkomdigi.
Meutya mengungkapkan bahwa rata-rata anak Indonesia menghabiskan sekitar enam jam per hari di internet, sedangkan orang dewasa mencapai delapan jam. Durasi ini berpotensi menggeser nilai-nilai budaya lokal karena anak lebih banyak terpapar konten digital dibandingkan pengalaman sosial di dunia nyata. Indonesia, menurut Meutya, memiliki modal besar untuk menghadapi tantangan ini dengan kekayaan permainan tradisional yang diwariskan lintas generasi. Permainan seperti lompat tali, galasin, dan gobak sodor dapat melatih kemampuan sosial, kerja sama, kreativitas, ketangguhan, serta perkembangan emosional anak tanpa bergantung pada teknologi.
Permainan tradisional dinilai sebagai alternatif yang murah, mudah diakses, dan relevan untuk mengurangi ketergantungan anak pada gawai. “Permainan tradisional bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan anak pada gawai,” ujarnya. Oleh karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang bermain yang sehat bagi anak-anak di berbagai daerah.
Selain pendekatan budaya, pemerintah juga memperkuat regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Regulasi ini membatasi akses anak di bawah usia 16 tahun terhadap platform digital yang berisiko tinggi, termasuk layanan yang menyediakan fitur komunikasi dengan orang asing, memuat konten berbahaya, atau berpotensi menimbulkan kecanduan. Meutya menjelaskan bahwa pendekatan Indonesia berbeda dengan negara lain karena tidak hanya mengatur media sosial, tetapi seluruh platform digital yang berisiko terhadap keselamatan anak, termasuk layanan perdagangan elektronik jika memenuhi indikator risiko. “Pendekatan kita lebih komprehensif dalam melindungi anak di ruang digital,” tegasnya.
Hingga saat ini, sekitar lima juta akun anak telah dikeluarkan dari platform digital berisiko tinggi. Namun, angka ini masih kecil dibandingkan sekitar 70 juta pengguna internet berusia di bawah 16 tahun di Indonesia. Menkomdigi juga mengungkapkan temuan bahwa 42 persen anak merasa takut atau tidak nyaman saat beraktivitas di internet, sementara hanya 37,5 persen yang pernah mendapatkan edukasi mengenai keselamatan digital. Di sisi lain, hanya sekitar 39,9 persen orang tua merasa memiliki pengetahuan memadai untuk mendampingi anak menggunakan internet secara aman. Ia juga menyoroti hasil penelitian internasional yang menunjukkan bahwa akun digital milik anak lebih cepat menerima rekomendasi konten berbahaya dibanding akun orang dewasa akibat mekanisme algoritma platform.
Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital keluarga agar orang tua tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga aktif mendampingi anak dalam menggunakan internet. Mengutip pakar psikologi sosial dari New York University, Jonathan Haidt, Meutya menegaskan bahwa perkembangan emosional anak lebih banyak dibentuk oleh pengalaman langsung daripada sekadar informasi yang diperoleh melalui layar. Interaksi saat bermain, berlari, bekerja sama, hingga belajar menyelesaikan konflik dengan teman sebaya dinilai lebih efektif dalam membangun karakter dibanding aktivitas digital yang bersifat pasif. “Pengalaman langsung jauh lebih berharga dalam membentuk karakter anak,” pungkas Menkomdigi.














