Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menekankan pentingnya peran keluarga dalam melindungi anak di tengah tantangan era digital yang semakin meningkat. Hal ini disampaikan Arifah dalam acara Talk Show Hari Anak Nasional 2026 yang disiarkan di TV One, Jakarta, pada Senin (21/7/2026).
Arifah menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai regulasi untuk memperkuat perlindungan anak. Namun, ia menegaskan bahwa regulasi tersebut tidak akan efektif tanpa adanya implementasi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. “Regulasi hanya akan menjadi dokumen jika tidak ada tindakan nyata dari masyarakat,” ujar Arifah Fauzi.
Selain menyusun kebijakan, Kementerian PPPA juga bertugas memberikan layanan kepada korban kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui berbagai mekanisme pendampingan. Meskipun demikian, Arifah menilai bahwa keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak sejak dini. “Keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar dan berkembang,” katanya.
Di tengah perkembangan teknologi digital, Arifah mengakui bahwa tidak ada orang tua yang mampu mengawasi anak selama 24 jam penuh. Oleh karena itu, menurutnya, perlindungan terbaik bukanlah pengawasan terus-menerus, melainkan membangun kesadaran dari dalam diri anak. “Anak harus diajarkan untuk memahami dan menyadari risiko yang ada di dunia digital,” ujarnya.
Arifah juga menyoroti fenomena penggunaan akun media sosial kedua (second account) di kalangan anak dan remaja. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan pentingnya membangun kejujuran dan komunikasi terbuka di dalam keluarga. Ia mengingatkan bahwa perubahan pola interaksi anak di era digital juga meningkatkan risiko munculnya perilaku antisosial, perundungan (bullying), hingga gangguan psikologis yang dampaknya dapat berlangsung hingga dewasa. “Kita harus waspada terhadap dampak jangka panjang dari perilaku ini,” tegasnya.
Pemerintah, lanjut Arifah, juga terus memperkuat berbagai program pemenuhan hak anak melalui penyediaan makanan bergizi, pendidikan, layanan kesehatan, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, serta program Cek Kesehatan Gratis sebagai bagian dari upaya mencetak generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas. Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan seluruh program tersebut sangat bergantung pada keterlibatan keluarga dalam pengasuhan anak. “Keluarga harus menjadi mitra utama pemerintah dalam setiap program perlindungan anak,” pesannya.
Bagi anak-anak yang mengalami kekerasan atau menghadapi persoalan yang sulit disampaikan kepada orang terdekat, Arifah mengajak memanfaatkan layanan Sahabat Perempuan dan Anak melalui Call Center 129 atau WhatsApp 08111-129-129. Menurutnya, pemerintah siap memberikan pendampingan, penjangkauan, hingga menyediakan rumah aman apabila diperlukan.
Mengakhiri pemaparannya, Arifah Fauzi mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Anak Nasional sebagai momentum memperkuat perlindungan terhadap anak Indonesia. “Mari kita jadikan Hari Anak Nasional sebagai pengingat untuk terus melindungi dan mendukung anak-anak kita,” tutupnya.
Penguatan perlindungan anak tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam membangun sumber daya manusia unggul melalui pemenuhan hak anak, penguatan ketahanan keluarga, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, serta perlindungan anak dari berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi.



















