Headline.co.id, Yogyakarta ~ 29 Juni 2026 – Meskipun Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan produksi perikanan terbesar kedua di dunia, konsumsi ikan di Pulau Jawa masih tergolong rendah. Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., Guru Besar Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), mengungkapkan bahwa kebiasaan makan, kurangnya pengetahuan, dan masalah distribusi menjadi penyebab utama rendahnya konsumsi ikan di wilayah tersebut.
Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi perikanan Indonesia pada tahun 2025 mencapai 26,25 juta ton. Namun, angka konsumsi ikan nasional pada tahun 2024 hanya mencapai 58,76 kg per kapita per tahun, jauh di bawah negara-negara seperti Malaysia dan Jepang. Di Jawa, konsumsi ikan bahkan lebih rendah dibandingkan dengan kawasan pesisir atau Indonesia Timur yang mencapai 77 hingga 82 kg per kapita per tahun.
Kebiasaan Makan dan Pengetahuan Gizi
Prof. Alim menjelaskan bahwa kebiasaan makan masyarakat Jawa yang lebih mengutamakan protein dari ayam, tahu, atau tempe dibandingkan ikan menjadi salah satu faktor utama. “Sejak kecil, masyarakat Jawa terbiasa dengan sumber protein selain ikan, berbeda dengan Indonesia Timur yang sejak dini sudah dibiasakan mengonsumsi ikan,” ujarnya. Selain itu, banyak masyarakat yang belum menyadari tingginya nilai gizi ikan, termasuk kandungan asam amino dan omega 3 yang baik untuk kesehatan.
Masalah Distribusi dan Logistik
Distribusi ikan dari Indonesia Timur ke Jawa juga menjadi tantangan tersendiri. Prof. Alim menyoroti bahwa pengiriman ikan memerlukan waktu, biaya, dan penanganan khusus karena ikan mudah rusak. “Tidak semua daerah memiliki fasilitas logistik yang memadai, sehingga distribusi ikan menjadi terbatas,” jelasnya.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Rendahnya konsumsi ikan berdampak pada sektor perikanan, di mana harga ikan menjadi sangat sensitif terhadap tingkat konsumsi. Selain itu, Alim juga menyoroti tantangan ekosistem laut, termasuk degradasi dan overfishing yang mengancam populasi ikan. “Penangkapan ikan berlebih di beberapa daerah dapat membahayakan populasi ikan,” tambahnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Prof. Alim menyarankan agar pemerintah dan pemangku kepentingan melakukan edukasi dini tentang pentingnya makan ikan, mendukung pengembangan produk olahan ikan siap santap, serta memastikan ketersediaan dan distribusi ikan segar. Penegakan hukum terhadap pelaku kerusakan ekosistem dan pengawasan ketat kawasan konservasi laut juga diperlukan untuk menjaga keberlanjutan sektor maritim Indonesia.





















