Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia terus berupaya mengendalikan penyakit demam berdarah dengue (DBD) dengan tujuan mencapai nol kematian akibat penyakit ini pada tahun 2030. Salah satu strategi utama yang ditekankan adalah meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap fase kritis dengue untuk mencegah terjadinya kasus berat.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menegaskan bahwa demam berdarah masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Penyakit ini berpotensi menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat. “Dengue masih menjadi ancaman serius di Indonesia karena berpotensi menyebabkan kematian jika terlambat ditangani,” ujar Prima dalam Temu Media bertema “Strategi Pengendalian Dengue” di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Prima menjelaskan bahwa perjalanan penyakit dengue terbagi menjadi tiga fase yang harus dipahami oleh masyarakat. Fase pertama adalah Fase Demam Tinggi, yang terjadi pada hari pertama hingga ketiga dengan suhu tubuh mendadak mencapai 38–40 derajat Celsius, disertai nyeri otot dan sakit kepala hebat. Fase kedua adalah Fase Kritis, yang terjadi setelah hari ketiga, di mana suhu tubuh justru menurun. Fase ini sering mengecoh karena pasien tampak membaik, padahal berisiko mengalami kebocoran plasma, perdarahan, hingga syok yang mengancam jiwa. Fase ketiga adalah Fase Penyembuhan, di mana kondisi tubuh berangsur membaik dan jumlah trombosit mulai kembali normal setelah melewati fase kritis dengan penanganan tepat. “Penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala dan fase penyakit ini,” tegas Prima.
Selain mengenali gejala, Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk aktif memutus rantai penularan dengan memberantas sarang nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk pembawa virus ini diketahui berkembang biak di genangan air bersih, baik di dalam rumah maupun di lingkungan sekitar. Tempat perindukan tersebut meliputi bak mandi, toren, penampungan dispenser/kulkas, vas bunga, barang bekas, hingga cekungan alami seperti lubang bambu dan pelepah daun.
Sebagai langkah preventif, Kemenkes mengajak masyarakat menerapkan gerakan 3M Plus: Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat wadah air, Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, ditambah dengan tindakan “Plus” sebagai perlindungan ekstra. Tujuan utamanya adalah memberantas sarang nyamuk dan mencegah nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. “Gerakan 3M Plus harus menjadi kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyebaran dengue,” pungkasnya.



















