Headline.co.id, Jakarta ~ Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi, menekankan pentingnya pemahaman budaya, seni, dan literasi, khususnya warisan intelektual Minangkabau, sebagai jembatan utama dalam mendorong kolaborasi internasional dan memperkuat saling pengertian global. Hal ini disampaikan dalam seminar internasional bertajuk “100 Years of Jam Gadang: From Literacy to Legacy: Building Wealth, Peace and Sustainability Learning” di Bukittinggi, Sumatra Barat, Kamis (4/6/2026).
Denny Abdi menyoroti pentingnya penguatan hubungan antarbangsa yang berbasis pada pengenalan akar budaya. Kementerian Luar Negeri berkomitmen untuk memfasilitasi Pemerintah Kota Bukittinggi dalam menindaklanjuti hasil forum tersebut ke tingkat yang lebih konkret. “Di tengah kondisi dunia seperti ini, kita perlu mendorong lebih banyak kolaborasi dan saling pengertian. Bangsa-bangsa harus bekerja sama dengan menjadikan pemahaman budaya sebagai jembatan menuju kerja sama yang lebih kuat,” ujar Denny dalam keterangan resmi, Kamis (11/6/2026).
Denny juga menjelaskan bahwa Sumatra Barat memiliki modalitas internasional yang besar, mulai dari keindahan alam, kekayaan budaya, kuliner yang mendunia, hingga tokoh-tokoh besar bangsa yang berasal dari ranah Minang. Potensi-potensi ini dinilai sebagai aset strategis diplomasi yang harus terus dipromosikan di panggung global.
Keberhasilan diplomasi budaya ini terlihat dari peningkatan partisipasi peserta International Minangkabau Literacy Festival (IMLF). Pada tahun 2023, festival ini hanya diikuti oleh 12 negara, namun pada 2026 meningkat signifikan menjadi 193 delegasi dari 37 negara. Pertumbuhan ini menunjukkan peningkatan ketertarikan dunia sekaligus membuka peluang kerja sama baru di bidang pendidikan, konservasi, dan pertukaran budaya.
Ketua DPRD Bukittinggi juga menyampaikan apresiasi serupa saat membuka seminar tersebut. Ia menegaskan arti penting Jam Gadang dalam sejarah Indonesia serta perannya sebagai ikon kota yang strategis dalam menggerakkan sektor pariwisata, budaya, dan ekonomi lokal.
Selain agenda diplomasi budaya, rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan penguatan sektor akademik dan infrastruktur berkelanjutan. Pada Jumat (5/6/2026), Sekjen Kemlu memberikan kuliah umum di hadapan 300 mahasiswa dan alumni Universitas Andalas, yang dirangkaikan dengan penandatanganan MOU Pendirian Pusat Studi Terowongan dan Infrastruktur Bawah Tanah (PUSTROIB) untuk mendorong sinergi akademisi, pemerintah, dan industri.
Sebagai penutup rangkaian acara, Sekjen Kemlu berpartisipasi dalam aksi penanaman 1.000 pohon di Bukittinggi untuk kelestarian lingkungan bersama sekitar 100 delegasi internasional, perwakilan kementerian, dan pemerintah daerah. Seluruh rangkaian kegiatan IMLF kemudian resmi diakhiri pada Minggu (7/6/2026) melalui gelaran yang diikuti oleh 2.000 peserta, termasuk kehadiran jajaran duta besar dari Belanda, Vietnam, Bosnia dan Herzegovina, serta Wakil Duta Besar Rwanda.





















