Headline.co.id, Bangunan ~ Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap II Tahun 2026 di Desa Sigayam, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bertujuan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur desa sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan semangat bela negara masyarakat. Komandan Kodim (Dandim) 0736/Batang, Letkol Inf Didik Sudarmawan, menegaskan bahwa TMMD merupakan wujud nyata dari konsep Pertahanan Semesta yang melibatkan seluruh komponen bangsa, termasuk warga, sumber daya, dan wilayah.
“Pertahanan semesta bukan sekadar urusan militer. Ketika TNI dan rakyat bersama membangun desa, itu menjadi bentuk pertahanan paling dasar karena desa yang maju dan kompak adalah benteng pertama menghadapi berbagai gangguan,” ujar Didik saat ditemui tim , Selasa (2/6/2026).
Didik menjelaskan bahwa semangat Pertahanan Semesta dalam TMMD diterjemahkan melalui tiga pendekatan utama. Pertama, kemanunggalan TNI dan rakyat sebagai kekuatan dasar pertahanan. Dalam praktiknya, TNI hadir di desa bekerja bersama warga membangun jalan, sarana sanitasi, hingga fasilitas pendukung lainnya sehingga masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang dilindungi, melainkan juga pelaku pembangunan dan pertahanan.
Kedua, kesejahteraan masyarakat dipandang sebagai bagian dari daya tahan nasional. Menurut Didik, ancaman terhadap negara tidak selalu berbentuk konflik bersenjata, tetapi juga dapat hadir melalui kemiskinan, keterisolasian, dan keterbatasan akses dasar. “Jalan rusak, kesulitan air, atau rendahnya akses pelayanan bisa menjadi kerawanan. Karena itu TMMD hadir melalui pembangunan fisik dan penyuluhan agar desa lebih tangguh,” katanya.
Ketiga, TMMD menjadi medium bela negara melalui karya nyata. Program tersebut, lanjut Didik, memperkuat gotong royong, menumbuhkan cinta tanah air, dan menghapus sekat TNI dan masyarakat. “Bela negara tidak selalu angkat senjata. Lewat gotong royong dan pembangunan desa, masyarakat ikut menjaga NKRI,” imbuhnya.
Pada TMMD Sengkuyung Tahap II Tahun 2026, capaian fisik utama berupa pembangunan jalan rabat beton sepanjang 580 meter dengan lebar tiga meter dan tebal 12 sentimeter berhasil diselesaikan. Bahkan terdapat overprestasi berupa tambahan rabat beton sepanjang 24 meter serta pembangunan empat unit jambanisasi.
Selain pembangunan fisik, TMMD juga menghadirkan berbagai kegiatan nonfisik yang menyasar peningkatan kapasitas masyarakat. Sedikitnya terdapat 14 jenis penyuluhan yang dilaksanakan, mulai dari wawasan kebangsaan dan bela negara, keamanan dan ketertiban masyarakat, bahaya narkoba, perlindungan anak, hukum dan zakat, pengolahan sampah, pelayanan keluarga berencana, stunting, tanggap bencana, hingga budidaya pertanian dan perikanan.
Didik menilai keberhasilan TMMD sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pemeliharaan hasil pembangunan. Untuk itu, pola partisipasi warga dimulai dari musyawarah desa untuk menentukan prioritas pembangunan, dilanjutkan gotong royong dalam pengerjaan fisik, dukungan logistik selama kegiatan, hingga komitmen merawat hasil pembangunan setelah program selesai. “TMMD tidak bisa berjalan sendiri. Perannya seimbang, TNI dan warga sama-sama bekerja. Usulan datang dari masyarakat, pelaksanaan bersama, dan perawatannya juga menjadi tanggung jawab warga,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, warga terlibat sebagai tenaga kerja mulai dari mengangkut material, memasang batu, hingga mengaduk semen, sementara TNI memberikan dukungan teknis dan peralatan.
Meski demikian, Didik mengakui terdapat sejumlah tantangan di lapangan. Dari sisi sosial, keterbatasan waktu warga yang sebagian besar bekerja sebagai petani atau peternak kerap memengaruhi tingkat partisipasi. Selain itu, perbedaan aspirasi dalam menentukan prioritas pembangunan serta menjaga semangat gotong royong selama pelaksanaan juga menjadi tantangan tersendiri.
Tantangan lain adalah keberlanjutan pasca-TMMD, terutama dalam hal pemeliharaan infrastruktur agar manfaat pembangunan tetap berumur panjang.
Bagi TNI, desa memiliki posisi strategis dalam memperkuat ketahanan nasional. Didik menyebut desa bukan wilayah pinggiran, melainkan akar kekuatan negara. “Kalau desa kuat, negara kuat. Desa yang sejahtera dan guyub akan lebih tahan terhadap hoaks, narkoba, maupun upaya memecah belah masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, desa memiliki tiga fungsi penting dalam perspektif pertahanan, yakni sebagai komponen pendukung pertahanan, basis logistik dan wilayah, serta benteng ideologi bangsa.
Karena itu, Didik berharap masyarakat Desa Sigayam tidak berhenti pada selesainya pembangunan fisik, melainkan terus menjaga semangat kebersamaan yang telah terbangun selama TMMD. “Ini milik masyarakat, bukan milik TNI. Kami hanya membantu selama pelaksanaan. Bangunan bisa saja retak, tetapi semangat gotong royong dan kemanunggalan TNI-rakyat jangan sampai retak. Kalau itu terjaga, TMMD berhasil sepenuhnya,” pungkasnya.




















