Headline.co.id, Sleman ~ Inovasi pengelolaan air mandiri yang dikembangkan oleh pegiat lingkungan di Kabupaten Sleman kini mulai diimplementasikan secara nasional untuk meningkatkan produktivitas sektor hortikultura. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Pertamina Geothermal Energy Lahendong, Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman dipercaya untuk mentransfer teknologi pemanenan air hujan ke kawasan pertanian bunga krisan di Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
Ekspansi pemikiran ini merupakan strategi adaptif bagi petani bunga dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global yang menyebabkan ketidakpastian pasokan air bersih. Kolaborasi lintas pulau ini berfokus pada pengenalan metode pemanfaatan air hujan sebagai alternatif utama pengganti air tanah, yang selama ini sering terbuang ke saluran pembuangan tanpa sempat dikonservasi secara optimal.
Pendiri SAH Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa teknologi utama yang dibawa ke Tomohon adalah ISLAH atau Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan. Modul instalasi ini dirancang khusus untuk menangkap, menyaring, dan menyimpan cadangan air hujan dalam wadah kedap udara, sehingga dapat diandalkan oleh petani krisan selama musim kemarau panjang.
“Air hujan adalah sumber daya alam yang sangat melimpah di Indonesia, namun sayangnya manajemen pemanfaatannya di sektor pertanian kita masih minim. Melalui skema lumbung air hujan atau ISLAH ini, kami mengedukasi petani krisan di Tomohon agar memiliki kemandirian cadangan pasokan air baku harian. Ketika manajemen hulu ini berhasil diterapkan, para petani otomatis memiliki bantalan ketahanan air yang stabil untuk mendukung seluruh siklus penyiraman bunga krisan sepanjang tahun tanpa perlu cemas akan risiko kekeringan,” ujar Sri Wahyuningsih saat ditemui di markasnya di Tempursari, Ngaglik, Sleman, pada Senin (1/6/2026).
Selain mengandalkan infrastruktur fisik lumbung air, Sri Wahyuningsih, yang akrab disapa Mbak Ning, juga memperkenalkan teknologi elektrolisa air kepada kelompok tani hortikultura setempat. Proses ini memisahkan molekul air menggunakan arus listrik searah untuk memecah air hujan menjadi dua karakter fungsional baru, yaitu air asam dan air basa.
Dalam budidaya krisan, air asam hasil elektrolisa dapat digunakan sebagai disinfektan alami untuk menekan pertumbuhan jamur dan patogen pada media tanam, sementara air basa sangat baik untuk merangsang penyerapan nutrisi pupuk pada akar tanaman. Kombinasi ini dinilai mampu mengurangi penggunaan zat kimia sintetis di kebun, sekaligus meningkatkan kualitas kesegaran kelopak bunga krisan agar sesuai dengan standar komoditas ekspor.
“Kombinasi teknik pemanenan air hujan dan teknologi elektrolisa ini merupakan terobosan menuju era pertanian modern yang ramah lingkungan. Sosialisasi yang kami lakukan di Sulawesi Utara tidak hanya mengenalkan instalasi pipa dan tangki, tetapi juga membuka ruang diskusi dan perspektif baru mengenai urgensi konservasi air. Kami ingin membuktikan bahwa air hujan memiliki kualitas yang lebih unggul bagi kesuburan tanaman jika dikelola dengan sains dan metodologi yang tepat,” tambah Wahyuningsih.
Hilirisasi teknologi dari Sleman ini diharapkan dapat memicu lahirnya regulasi lokal di Kota Tomohon terkait perlindungan tangkapan air hujan di area agrowisata. SAH Banyu Bening menegaskan komitmennya untuk terus mengawal implementasi program ini melalui pendampingan berkala bersama tim teknis Pertamina Geothermal Energy.
“Harapan terbesar kami, pengetahuan baru mengenai pemanfaatan dan rekayasa kualitas air hujan ini bisa segera diaplikasikan secara konkret oleh kelompok tani di sana melalui langkah-langkah aksi nyata harian. Program kemitraan ini tidak boleh berhenti pada tataran seremonial atau ruang sosialisasi di gedung pertemuan saja, melainkan harus mewujud menjadi kluster-kluster lumbung air yang produktif di sepanjang ladang krisan Tomohon demi keberlanjutan masa depan pertanian nasional,” pungkas Wahyuningsih. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)






















