Mutiara Headline
banner 325x300
Kirim Berita Suara Pembaca
BeritaHukum

Terkait Kasus “Nasi Anjing”, Polres Metro Jakarta Utara Periksa 10 Saksi

176
×

Terkait Kasus “Nasi Anjing”, Polres Metro Jakarta Utara Periksa 10 Saksi

Sebarkan artikel ini
bantuan makanan siap santap yang berlogo kepala anjing disertai tulisan Nasi Anjing
Warga Tanjung Priok, Jakarta Utara menerima bantuan makanan siap santap yang berlogo kepala anjing disertai tulisan Nasi Anjing, Nasi Orang Kecil, Bersahabat dengan Nasi Kucing #Jakartatahanbanting.(Istimewa)

Headline.co.id (Jakarta) ~ 10 saksi telah dilakukan pemeriksaan oleh Polres Metro Jakarta Utara terkait kasus makanan “Nasi Anjing” di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

baca juga: Pasien Meninggal Akibat Covid-19 Didominasi Lansia

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto di Jakarta mengatakan bahwa sekarang ini sedang dalam tahapan penyelidikan terhadap para saksi, total ada 10 orang yang dimintai keterangan.

Menurut Kapolres Jakarta Utara, dari saksi yang telah diperiksa diantaranya ada tujuh orang perwakilan yayasan yang memberikan nasi berlabel “Nasi Anjing” tersebut. Sementara 3 lainnya adalah warga di sekitar Masjid Babah Alun, Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sebagai penerima nasi.

Dari keterangan para saksi, Budhi mengungkapkan bahwa pihaknya belum berani menyimpulkan, namun pihaknya terus melakukan proses. Budi menegaskan proses hukum masih berjalan, meskipun mediasi para pihak sudah dilakukan.

baca juga: Terlibat Cekcok dan Meminta Kembali Harta yang Sudah Diberikan, Seorang Istri Nekat Bacok Suami

“Proses hukum ini akan terus berjalan dan kami lanjutkan tahapannya,” kata Budhi sebelumnya.

Sebelumnya, pemilik sekaligus pendiri Yayasan Qahal, Biantoro Setijo telah dipertemukan dengan warga RT 11 RW 12 Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, dalam proses mediasi, Minggu (26/4).

Yayasan Qahal merupakan donatur dalam pembagian nasi bungkus dengan cap stempel kepala anjing tersebut.

Bintaro menjelaskan penamaan “Nasi Anjing” merujuk pada porsinya yang tidak jauh berbeda dengan “Nasi Kucing” yang berporsi sedikit.

baca juga: Pengembangan Kasus Korupsi Bupati Muara Enim, KPK Amankan 2 Tersangka

“Kami anggap nasi kucing kan udah terkenal. Nasi kucing kan porsinya sedikit, makanya kami jelaskan untuk ‘Nasi Anjing’ karena sedikit lebih banyak dari nasi kucing. Tapi tidak bisa membuat kenyang, hanya membuat bertahan hidup,” kata Biantoro.

Dia juga menegaskan bahwa makanan yang dibagikannya dibuat menggunakan bahan-bahan yang halal seperti tempe oreg, cumi, sosis, maupun telur.

Baca juga: IDI Kembali Berduka Kehilangan dr Mikhael Robert dengan Keluhan Corona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *