Headline.co.id, Jogja ~ Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi melalui Program Studi Geografi yang berhasil meraih peringkat 101-150 dunia dalam pemeringkatan QS World University Rankings (QS WUR) by Subject yang diumumkan pada Maret lalu. Di tingkat nasional, Prodi Geografi UGM menempati posisi pertama, diikuti oleh Universitas Indonesia (UI) yang berada di peringkat kedua dengan posisi 151-200 dunia.
Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron, S.Si., M.T., M.Sc., yang akrab disapa Emma, selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama dan Alumni Fakultas Geografi UGM, menyatakan bahwa kolaborasi dengan alumni dan komitmen dalam pengabdian masyarakat menjadi kunci keberhasilan fakultas dalam mencapai peringkat global tersebut. Emma menjelaskan bahwa sebelum QS WUR diresmikan pada tahun 2004, Fakultas Geografi UGM telah aktif dalam berbagai konsorsium dan forum internasional, yang menjadi dasar penilaian lembaga pemeringkatan dunia.
Emma menambahkan bahwa Fakultas Geografi UGM telah terlibat dalam berbagai inisiatif global, termasuk di dalam Sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti UNCCD, UNEP, dan UN-Habitat. “Sejak mungkin 15-20 tahun yang lalu, kami berusaha masuk ke grup-grup itu. Kalau kami tidak diketahui oleh partner-partner internasional, maka kami tidak akan dilibatkan dalam berbagai beragam jenis inisiasi global itu. Kemudian itu membuahkan hasil, contohnya ekspertis kami dianggap mampu untuk mengisi kebutuhan di United Nation,” ujarnya pada Jumat (24/4).
QS WUR by subject menilai pemeringkatan berdasarkan beberapa indikator, termasuk reputasi akademik, kinerja riset, reputasi lulusan, dan rasio dosen-mahasiswa. Fakultas Geografi UGM berfokus pada peningkatan reputasi akademik melalui kinerja dosen dalam menghasilkan publikasi di jurnal internasional. Emma menyebutkan bahwa fakultas ini menjadi pionir dalam ilmu geografi dan berperan penting dalam pengembangan kajian kewilayahan di Indonesia. “Rata-rata angka riset kita berada di kisaran empat hingga lima publikasi riset per dosen dalam setahun. Capaian ini merupakan hasil kolaborasi tim, sehingga target tidak bertumpu pada satu pihak saja,” ungkapnya.
Selain riset, Fakultas Geografi UGM juga memperkuat jaringan penelitian dan menjaga hubungan dengan mitra lama. Namun, Emma mengakui bahwa kegiatan ini sering kali tidak tercatat sebagai publikasi, yang menjadi salah satu faktor penilaian akreditasi. Ia juga mendorong dosen untuk melibatkan mahasiswa dalam kegiatan joint supervision dan mengenalkan mereka pada hasil riset yang telah dipublikasikan.
Indikator lain yang dinilai oleh QS WUR adalah reputasi lulusan, yang diperoleh melalui umpan balik dari pengguna lulusan, termasuk alumni Fakultas Geografi yang tersebar di berbagai perusahaan dan lembaga, baik di dalam maupun luar negeri. “Alumni secara aktif memberikan evaluasi dan masukan,” paparnya.
Kolaborasi alumni dan fakultas menjadi pilar utama dalam pencapaian fakultas ini. Setiap tahun, kuliah umum diadakan untuk mempertemukan mahasiswa dengan alumni, sehingga mahasiswa dapat memahami penerapan disiplin ilmu yang mereka pelajari. “Kami sedang mengupayakan setiap prodi rutin ketemu alumni di berbagai kementerian, lembaga, untuk menjelaskan kurikulumnya kayak apa, supaya mereka paham, ekspertis geografi yang mereka miliki akan dapat dibawa ke mana saja,” tutupnya.





















