Headline.co.id, Cirebon ~ Jakarta. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan nasional dengan memulai dari lingkungan sekolah. Langkah ini diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Pencegahan Paham Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Radikalisme di SMAN 1 Jamblang, Cirebon, Jawa Barat. Kepala BNPT, Komjen Pol. Eddy Hartono, menekankan pentingnya kegiatan ini agar para pelajar memiliki kemampuan literasi digital yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh konten kekerasan.
Menurut Eddy Hartono, terdapat tiga faktor utama yang membuat pelajar rentan terpapar konten radikalisme di media sosial. Faktor-faktor tersebut adalah perundungan (bullying) yang membuat pelajar mencari pelarian di media sosial, kondisi orang tua, dan faktor ekonomi. Selain mendapatkan pembekalan dari Kepala BNPT, para pelajar juga menerima materi dari perwakilan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) dan Duta Damai Provinsi Jawa Barat.
Acara ini diakhiri dengan pembuatan video jargon secara bersama-sama sebagai bentuk komitmen pelajar dalam menjaga perdamaian. Sebelumnya, Kepala BNPT mengungkapkan bahwa konten kekerasan ekstrem dapat mendoktrin anak-anak dalam waktu 3–6 bulan. Percepatan paparan di ruang digital ini lebih cepat membentuk pemahaman dibandingkan dengan metode tatap muka yang memakan waktu 3–6 tahun.
Eddy Hartono juga menyoroti bahwa perempuan dan anak-anak merupakan kelompok rentan yang terpapar paham kekerasan dan radikalisme. “Kami sebelumnya sudah melakukan penelitian bahwa memang perempuan dan anak ini juga menjadi kelompok rentan, terpapar, baik terpapar kepada paham-paham kekerasan maupun terhadap paham-paham radikal terorisme. Nah, ini juga terus saling mengkaitkan,” ujarnya. Konten kekerasan ekstrem ini banyak ditemukan di media sosial seperti YouTube, Telegram, TikTok, dan platform lainnya, serta melalui darkweb dalam komunitas tertentu.























