Headline.co.id, Buru ~ Masyarakat Okinawa di Jepang dikenal memiliki angka harapan hidup lansia yang mencapai rata-rata 80 tahun. Salah satu prinsip yang mereka pegang adalah “hara hachi bu,” yaitu berhenti makan sebelum kenyang, yang diyakini memberikan manfaat kesehatan. Konsep ini dianggap efektif dalam menjaga kesehatan dan mencegah obesitas serta penyakit metabolik kronis.
Rahadyana Muslichah, S.Gz., M.Sc., dosen dari Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM, menjelaskan bahwa “hara hachi bu” adalah bagian dari konsep “mindful eating” atau makan dengan penuh kesadaran. Budaya makan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Okinawa. Selain meningkatkan harapan hidup, prinsip ini juga menurunkan risiko penyakit kronis. “Hara hachi bu sangat dekat dengan mindful eating. Ketika makan harus bisa fokus dengan makanan, hindari multitasking, menikmati rasa, memahami sinyal dari tubuh. Harapannya agar kita bisa mengontrol jumlah makanan yang dikonsumsi,” ujarnya pada Senin (13/4).
Secara fisiologis, prinsip kenyang 80% ini bermanfaat karena membantu mengurangi beban metabolik akibat konsumsi makanan berlebihan. Makan berlebihan dapat memberikan tekanan pada saluran pencernaan, meningkatkan risiko obesitas, dan penyakit lainnya. “Hara hachi bu turut memberikan jeda istirahat bagi pencernaan,” ungkap Icha.
Tubuh memiliki standar rasa kenyang yang dapat dikenali, namun lambung memerlukan waktu untuk mengirim sinyal ke otak. Prinsip “hara hachi bu” tidak dapat diterapkan jika seseorang makan dengan terburu-buru. “Lambung butuh waktu untuk mengirim sinyal ke otak ketika dia kenyang. Jadi, dengan berhenti di 80% sebenarnya kita sudah menerima cukup energi, meski rasanya belum cukup kenyang,” jelasnya.
Namun, Icha menekankan bahwa prinsip ini tidak cocok untuk semua orang. Misalnya, ibu hamil, anak kecil, remaja, dan atlet olahraga yang memiliki kebutuhan kalori khusus. Penerapan “hara hachi bu” pada kelompok ini, meskipun dengan penyesuaian, dapat mengurangi asupan kalori dan menimbulkan efek samping.
Icha memberikan beberapa saran bagi yang ingin menerapkan konsep ini. Pertama, perubahan membutuhkan waktu untuk adaptasi. Kedua, motivasi dan niat diperlukan untuk konsistensi. Ketiga, penting untuk mengenali rasa lapar dan kenyang pada tubuh. Keempat, menghilangkan distraksi yang dapat mengganggu fokus tubuh dalam merasakan sinyal tersebut. “Sesederhana sadar, mengunyah sudah menjadi sinyal yang dikirimkan lambung ke otak untuk merasa kenyang,” pungkasnya.




















