Headline.co.id, Jakarta ~ Shinta Nuriyah Wahid, istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, menyampaikan pandangannya tentang makna bencana dalam kehidupan manusia. Hal ini disampaikan dalam tausiyah Ramadan pada acara buka puasa bersama yang diadakan oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Aula Henri Soetio, Gedung KWI, Menteng, Jakarta Pusat.
Dalam kesempatan tersebut, Shinta Nuriyah menjelaskan bahwa bencana dapat dimaknai dari tiga perspektif spiritual. “Pertama, bencana merupakan peringatan dari Allah kepada manusia. Kedua, bencana adalah ujian dari Allah. Dan ketiga, bencana bisa menjadi hukuman dari Allah,” ungkap Shinta di hadapan tokoh lintas agama dan tamu undangan, sebagaimana disampaikan dalam siaran pers yang diterima , Senin (16/3/2026).
Shinta menambahkan, jika bencana dianggap sebagai peringatan, manusia perlu memohon petunjuk kepada Tuhan agar dapat memahami pesan yang disampaikan melalui peristiwa tersebut. “Marilah kita memohon kepada Allah agar diberi ketajaman mata, pikiran, dan hati untuk memahami peringatan yang telah diturunkan kepada kita,” ujar pendiri Gerakan Nurani Bangsa itu.
Ia juga menekankan bahwa ujian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Menurutnya, setiap orang pasti menghadapi ujian, namun mereka yang berhasil melewatinya dengan baik akan mendapatkan derajat yang lebih tinggi. “Tidak ada manusia yang tidak mengalami ujian. Yang lulus ujian akan naik derajatnya,” katanya.
Sementara itu, jika bencana dianggap sebagai hukuman, Shinta Nuriyah mengajak masyarakat untuk introspeksi dan memperbaiki diri. “MasyaAllah, marilah kita semua bertobat kepada Allah, meningkatkan iman dan takwa, serta memohon agar hukuman yang diturunkan kepada kita segera diangkat sehingga kita dapat hidup dengan tenang dan bahagia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Shinta menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa yang semakin berat akibat berbagai persoalan sosial dan perilaku sebagian pihak yang meresahkan masyarakat. “Para pengampu hukum dan pengampu negara seharusnya tidak melakukan tindakan yang justru meresahkan rakyat dan membuat rakyat semakin menderita,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan bulan suci Ramadan untuk memperbanyak doa dan memohon pertolongan kepada Tuhan agar kondisi bangsa menjadi lebih baik. “Semoga semua pelanggaran yang menyengsarakan rakyat dapat segera dihentikan dan pelakunya diberi hukuman yang setimpal,” ujar Shinta Nuriyah Wahid.
Acara buka puasa bersama ini dihadiri oleh berbagai tokoh agama dan perwakilan organisasi keagamaan. Di antaranya adalah Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo, Ketua Presidium KWI Antonius Subianto Bunjamin, serta Ketua Komisi HAK KWI Christophorus Tri Harsono. Selain itu, hadir pula perwakilan dari Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Permabudhi, dan Matakin.
Turut hadir juga organisasi kepemudaan lintas agama seperti Pemuda Katolik, Pemuda Muhammadiyah, GP Ansor, GAMKI, serta perwakilan pemuda Hindu, Buddha, Konghucu, dan penghayat kepercayaan. Acara ini juga dihadiri oleh berbagai komunitas masyarakat, termasuk anak yatim piatu, pekerja kebersihan, tukang parkir, serta sejumlah panti asuhan dari berbagai latar belakang agama.
Buka puasa bersama ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Sahur Keliling Ramadan 2026 yang dilakukan Shinta Nuriyah untuk menyapa masyarakat di berbagai daerah sekaligus memperkuat semangat kebersamaan lintas agama.
Untuk kedua kalinya dalam sejarah lebih dari satu abad keberadaan KWI, kegiatan Ramadan seperti pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kumandang azan Magrib, alunan musik hadroh, hingga tarian sufi digelar di Gedung KWI. Momentum serupa sebelumnya juga pernah berlangsung pada Ramadan 2025.
Sekretaris Komisi HAK KWI Aloys Budi Purnomo menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang memperkuat semangat persaudaraan. “Momentum ini menjadi kesempatan bagi semua orang untuk berjalan bersama sebagai umat beriman, apa pun agama dan kepercayaannya, dengan semangat belarasa dan persaudaraan demi terciptanya kerukunan dan kedamaian,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, panitia juga membagikan paket sembako Ramadan kepada kaum duafa bekerja sama dengan Mabes Polri. Romo Budi berharap kegiatan ini dapat memperkuat semangat saling menghargai dalam keberagaman di tengah berbagai tantangan global maupun nasional. “Semoga momentum ini menjadi berkat bagi umat dan masyarakat yang saling menghormati dalam perbedaan dan keberagaman,” pungkasnya.



















