Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengajak perguruan tinggi untuk mengembangkan inovasi dalam pengolahan dan daur ulang sampah berbasis riset. Menurutnya, pengelolaan sampah harus dilakukan secara terdesentralisasi dan terintegrasi dari hulu ke hilir, dimulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan residu di fasilitas terpadu.
Brian Yuliarto menyatakan bahwa satu kecamatan dapat menghasilkan sekitar 100 ton sampah per hari. Jika pemisahan sampah dilakukan dengan baik, residu yang perlu dibakar hanya sekitar 10–20 ton per hari. “Pendekatan ini dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dan membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan kembali material yang masih bernilai,” ujarnya pada Senin (16/3/2026).
Sebagai contoh, ia menyebut fasilitas pengolahan sampah milik Universitas Islam Bandung yang menggunakan teknologi plasma-assisted untuk memecah senyawa berbahaya dalam proses pembakaran residu. Teknologi ini dinilai memiliki potensi untuk diterapkan lebih luas.
Menteri Brian Yuliarto menjelaskan bahwa pengolahan sampah dapat dilakukan secara bertingkat, mulai dari pemilahan di tingkat kelurahan, pengolahan skala menengah di tingkat kecamatan, hingga penggunaan teknologi untuk mengolah residu yang tidak dapat didaur ulang. Pendekatan ini dianggap lebih efisien dari sisi logistik dan biaya dibandingkan dengan sistem pengelolaan yang terlalu terpusat.






















