Headline.co.id, Bantul ~ Kultum sebelum Sholat Tarawih di Masjid Daarul Muttaqin Universitas Alma Ata menghadirkan Prof. Maragustam, MA, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga sekaligus dosen tamu Prodi S2 PAI Universitas Alma Ata, pada momen Ramadhan ini. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya menyeimbangkan tiga kekuatan utama manusia, yakni kekuatan berpikir, jiwa, dan amarah atau ambisi. Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat agar manusia tidak terjerumus pada kerusakan akibat dominasi hawa nafsu. Ia juga mengaitkan pesan tersebut dengan fenomena global dan realitas sosial saat ini.
Prof. Maragustam menjelaskan bahwa setiap manusia dianugerahi Allah SWT tiga potensi besar yang harus dikelola secara proporsional. “Allah menganugerahkan kepada manusia kekuatan berpikir, kekuatan jiwa, dan kekuatan amarah atau ambisi. Ketiganya harus diseimbangkan agar manusia menjadi insan paripurna,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, ketika kekuatan berpikir tidak dibarengi dengan kematangan jiwa dan keimanan, maka potensi intelektual justru bisa melahirkan kerusakan. Ia mencontohkan fenomena dunia saat ini, seperti konflik internasional dan praktik korupsi, yang dilakukan oleh individu dengan kemampuan intelektual tinggi namun mengesampingkan nilai moral dan iman.
“Belajar dari fenomena dunia saat ini, seperti Trump yang menyerang Iran dan Timur Tengah ataupun para koruptor, mereka memiliki kemampuan berpikir tinggi. Namun ketika jiwa dan keimanannya dikesampingkan, yang terjadi adalah kerusakan,” kata Prof. Maragustam.
Ia mengingatkan bahwa Islam telah memberikan pedoman yang jelas dalam mengelola potensi diri. Salah satunya melalui firman Allah SWT dalam QS. Al-Qasas ayat 77:
﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾
[QS. Al-Qasas: 77]
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Menurutnya, ayat tersebut menegaskan keseimbangan antara orientasi akhirat dan tanggung jawab duniawi. Manusia tidak dilarang memanfaatkan potensi dunia, tetapi harus tetap berlandaskan nilai kebaikan dan menjauhi kerusakan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya akhlak sebagai implementasi nyata dari keseimbangan tersebut. “Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia dan sesama muslim. Itulah yang disebut akhlak. Kenikmatan yang Allah berikan harus disyukuri dengan berbuat baik kepada orang lain,” tuturnya.
Dalam ceramahnya, Prof. Maragustam juga mengutip sabda Rasulullah SAW sebagai penguat pesan moral kepada jamaah:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum kematianmu.” (H.R. Ibnu Abi Ad-Dunya, Al-Hakim no. 7846, dan Al-Baihaqi no. 10248)
Ia menegaskan bahwa kemampuan berpikir dan penguasaan ilmu pengetahuan harus terus dikembangkan, khususnya di lingkungan akademik. Namun, pengembangan intelektual tersebut harus diimbangi dengan kematangan jiwa dan keimanan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
“Kita harus terus berpikir dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Tetapi semuanya harus diseimbangkan dengan kematangan jiwa dan iman. Itulah bentuk syukur kita kepada Allah SWT,” tegasnya.
Ceramah tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kecerdasan intelektual tanpa kendali moral berpotensi melahirkan kerusakan. Sebaliknya, keseimbangan antara akal, jiwa, dan ambisi akan mengantarkan manusia pada kehidupan yang lebih bermakna dan selaras dengan nilai-nilai Islam.





















