Headline.co.id, Perayaan Tahun Baru Imlek Di China Dikenal Sebagai Periode Migrasi Terbesar ~ dengan perkiraan 9,5 miliar perjalanan lintas wilayah pada tahun 2026. Periode ini berlangsung selama 40 hari, dimulai dari 2 Februari, dan mencakup aktivitas pulang kampung serta pariwisata. Libur Imlek yang lebih panjang dibandingkan hari libur lainnya dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga, menguatkan kembali ikatan yang mungkin merenggang akibat jarak.
Di Indonesia, perayaan Imlek mulai marak sejak era reformasi di bawah Presiden Gus Dur. Saat itu, berbagai kegiatan seperti karnaval, pertunjukan barongsai, dan festival kebudayaan mulai digelar. Pada masa Presiden Megawati, Imlek diakui sebagai hari libur nasional, memungkinkan komunitas Tionghoa merayakannya secara lebih terbuka. Etnis lain juga turut serta memeriahkan perayaan ini. “Tahun baru imlek merupakan perayaan multikultural festival terutama untuk festival rakyat,” ujar Evi Lina Sutrisno, M.A., Ph.D., pengamat identitas dan multikulturalisme serta dosen di UGM, Jumat (27/2).
Lina menjelaskan bahwa rangkaian perayaan Imlek berlanjut hingga Cap Go Meh, yang jatuh pada 3 Maret 2026. Cap Go Meh menandai festival bulan purnama dan penutup rangkaian Imlek, melambangkan penyempurnaan doa dan harapan di awal tahun. Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh terbesar berlangsung di Singkawang, Kalimantan Barat, dengan festival yang memadukan budaya Tionghoa dan Dayak. “Di Singkawang terdapat festival pedang, pisau hingga pertunjukkan ekstrim yang kebanyakan dilakukan oleh orang Dayak,” tambahnya.
Budaya Tionghoa juga dikenal dengan shio, dua belas lambang hewan dalam astrologi Tionghoa yang mewakili siklus tahunan. Tahun 2026 adalah tahun Kuda Api, di mana shio dikombinasikan dengan elemen dari Teori Lima Elemen (Wu Xing): Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air. Unsur spiritual dalam Imlek terlihat dari kepercayaan masyarakat Tionghoa terhadap kecocokan shio, yang mendorong mereka melakukan kegiatan spiritual seperti berdoa di awal tahun. Ritual Ciswak, tradisi tolak bala untuk membuang sial dan menyucikan diri, biasanya dilakukan bersama di Kelenteng. “Di Tahun Kuda Api, bagi shio yang tidak beruntung akan melakukan Ciswak,” jelas Lina.
Menurut Lina, Kuda adalah simbol aktivitas, tenaga, dan kekuatan, sementara Api melambangkan semangat yang bisa berujung pada konflik atau bencana. Tahun Kuda Api menjadi refleksi untuk tetap semangat dan tabah menghadapi tantangan. “Harapan saya untuk tahun ini kita harus tetap semangat dan teguh. Walaupun situasi dunia sedang tidak baik-baik saja, situasi politik mungkin tidak menentu dan tidak dapat diduga, tapi kita perlu teguh, perlu menjaga semangat kita, mendapatkan energi positif dari kuda dan api untuk menghadapinya,” harapnya.






















