Headline.co.id, Jakarta ~ Stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga meskipun dihadapkan dengan ketidakpastian geopolitik dan tensi perdagangan global yang tinggi. Hal ini didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang dapat dikelola dengan baik. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Mahendra menjelaskan bahwa kinerja intermediasi perbankan tetap memberikan kontribusi positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada Desember 2025, kredit perbankan mengalami pertumbuhan sebesar 9,6% year-on-year (yoy) menjadi Rp8.585 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kredit investasi yang meningkat sebesar 20,81% yoy, diikuti oleh kredit konsumsi yang tumbuh 6,58% yoy, dan kredit modal kerja yang naik 4,52% yoy.
Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,05% dan NPL net sebesar 0,79%. Loan at Risk (LaR) juga relatif stabil di angka 8,77%. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 13,83% yoy menjadi Rp10.059 triliun, dengan pertumbuhan giro, tabungan, dan deposito masing-masing sebesar 19,13%, 8,19%, dan 14,28% yoy.
Mahendra menambahkan bahwa ketahanan perbankan tercermin dari tingkat permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang berada di level tinggi, yaitu 25,87% pada Desember 2025. Likuiditas perbankan juga memadai dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 85,35%, serta Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK) masing-masing sebesar 126,15% dan 28,57%, jauh di atas ambang batas masing-masing 50% dan 10%.
Pasar saham dalam negeri menunjukkan kinerja positif pada triwulan IV 2025, seiring dengan terjaganya kinerja perekonomian nasional dan membaiknya sentimen global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 8.646,94 per 30 Desember 2025, menguat 7,27% secara quarter-to-quarter (qtq) dan 22,13% yoy. Peningkatan ini didukung oleh rata-rata nilai transaksi harian saham yang meningkat signifikan dan aksi beli bersih oleh nonresiden di pasar saham sebesar Rp37,40 triliun.
Menurut Mahendra, capaian positif dalam penghimpunan dana di pasar modal domestik terus berlanjut. Sepanjang tahun 2025, nilai penawaran umum di pasar modal domestik mencapai Rp274,80 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp259,24 triliun.
Di sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP), aset industri asuransi per Desember 2025 mencapai Rp1.201,96 triliun, tumbuh 6,01% yoy. Permodalan di industri asuransi komersial masih memadai, dengan Risk Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa sebesar 485,90% dan asuransi umum serta reasuransi sebesar 335,22%, jauh di atas ambang batas 120%.
Industri dana pensiun juga menunjukkan pertumbuhan dengan total aset mencapai Rp1.679,46 triliun pada Desember 2025, meningkat 11,35% yoy. Aset dana pensiun program sukarela mencapai Rp411,29 triliun, tumbuh 7,52% yoy. Sementara itu, total aset perusahaan penjaminan tumbuh 2,42% yoy menjadi Rp47,51 triliun.
Mahendra juga menyebutkan bahwa pada sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML), piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) tumbuh 0,61% yoy pada Desember 2025 dengan nominal Rp506,50 triliun, didukung oleh pembiayaan modal kerja yang tumbuh 10,06% yoy.
Profil risiko perusahaan pembiayaan terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 2,51% dan NPF net sebesar 0,77%. Gearing ratio perusahaan pembiayaan berada pada level yang memadai, tercatat sebesar 2,18 kali, jauh di bawah batas maksimum 10 kali. Pada industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding pembiayaan tumbuh 25,44% yoy dengan nominal Rp96,62 triliun dan tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) pada level 4,32%.
Hingga Desember 2025, terdapat 1.373 aset kripto yang dapat diperdagangkan. OJK telah menyetujui perizinan 29 entitas di ekosistem perdagangan aset kripto, yang terdiri dari 1 bursa kripto, 1 lembaga kliring penjaminan dan penyelesaian, 2 pengelola tempat penyimpanan, dan 25 pedagang aset kripto. Mahendra menutup dengan menegaskan pentingnya menjaga stabilitas sektor jasa keuangan di tengah tantangan global yang ada.






















